Harga mobil listrik GAC Indonesia berpeluang menjadi lebih bersaing jika target tingkat kandungan lokal dalam negeri atau TKDN bisa naik dari sekitar 40 persen menuju 60 persen. Kenaikan itu menjadi fokus utama karena perusahaan melihat ruang efisiensi biaya produksi masih terbuka lebar lewat penggunaan komponen lokal yang lebih besar.
Dorongan menaikkan TKDN bukan hanya soal memenuhi kebutuhan produksi dalam negeri. Langkah ini juga berkaitan langsung dengan strategi GAC Indonesia untuk bertahan di pasar mobil listrik yang makin padat persaingan, sekaligus menjaga daya tarik harga di mata konsumen.
TKDN 40 persen jadi pijakan awal
Capaian TKDN di kisaran 40 persen menjadi titik awal yang penting bagi GAC Indonesia. Angka tersebut dinilai sudah berada di jalur yang sejalan dengan beberapa merek lain yang juga merakit mobil di Indonesia.
Dari posisi itu, masih ada ruang untuk mendorong kandungan lokal lebih tinggi. Target 60 persen yang dibidik untuk 2027 dipandang bisa dicapai bila penggunaan komponen dalam negeri terus diperluas secara bertahap.
Peningkatan tersebut tidak bisa berjalan sendiri. GAC tetap membutuhkan dukungan pemasok komponen lokal agar porsi kandungan dalam negeri bisa naik secara konsisten dari waktu ke waktu.
Harga jual bisa ikut terdorong lebih kompetitif
Bagi konsumen, isu TKDN sangat erat dengan harga jual mobil listrik. Jika komponen lokal semakin banyak, biaya produksi berpotensi lebih efisien dan membuka peluang harga yang lebih bersahabat.
Kondisi ini penting karena mobil listrik dengan banderol yang terjangkau masih menjadi incaran banyak pembeli. Dengan efisiensi yang lebih baik, GAC Indonesia punya peluang menawarkan produk yang lebih menarik di pasar domestik.
Namun, penurunan harga tetap bergantung pada sejauh mana target kandungan lokal itu benar-benar tercapai. Semakin dekat ke angka 60 persen, semakin besar pula ruang untuk memberikan harga yang lebih kompetitif.
Produksi lokal sudah menopang penjualan
Saat ini, GAC Indonesia mengandalkan produksi lokal untuk sejumlah model dari lini Aion dan Hyptec. Aion UT menjadi salah satu model yang paling mencuri perhatian karena disebut memperoleh pesanan hingga ribuan unit.
Selain UT, model lain seperti Y Plus, V, dan Hyptec HT juga ikut diminati konsumen. Walau volumenya tidak sebesar UT, kehadiran model-model tersebut membantu menjaga aktivitas penjualan GAC di Indonesia.
Portofolio produk yang sudah berjalan memberi keuntungan tambahan. GAC memiliki peluang lebih besar untuk memperkuat rantai pasok sekaligus membangun kapasitas produksi di dalam negeri dengan lebih solid.
Persaingan pasar ikut mendorong strategi lokal
Upaya memperbesar TKDN juga tidak lepas dari ketatnya persaingan di pasar mobil listrik Indonesia. Segmen ini kini diisi banyak pemain, termasuk merek dari negara yang sama dengan GAC.
Salah satu nama yang disebut dominan dalam dua tahun terakhir adalah BYD. Keunggulannya datang dari lini produk yang dinilai lengkap, sementara GAC masih berfokus memperkuat fondasi produksi lokalnya.
Kondisi pasar yang kompetitif justru memberi peluang tersendiri. Saat produksi lokal pesaing belum sepenuhnya berjalan, GAC bisa memanfaatkan momentum untuk membangun efisiensi biaya dan memperkuat daya saing produk.
Fokus GAC masih pada penguatan basis produksi
Di tengah kemungkinan hadirnya model baru, arah utama GAC Indonesia tampaknya belum berubah. Fokus perusahaan masih tertuju pada penguatan produksi lokal sebagai basis pertumbuhan di pasar Indonesia.
Hingga saat ini, perusahaan disebut baru menjual beberapa model di pasar domestik. Belum ada kepastian kapan model anyar lain akan hadir, meski sempat beredar dugaan bahwa E9 akan dibawa ke Indonesia.
Situasi tersebut membuat strategi TKDN semakin penting bagi arah bisnis GAC ke depan. Jika kandungan lokal naik bertahap menuju 60 persen, peluang untuk menggabungkan produksi yang lebih efisien, produk yang kompetitif, dan harga yang lebih ramah konsumen akan semakin terbuka.







