Rencana Microsoft untuk memasok kebutuhan energi pusat data AI dengan pembangkit berbasis gas metana memunculkan perdebatan baru soal arah kebijakan iklim perusahaan. Di tengah dorongan besar terhadap kecerdasan buatan, langkah ini dinilai memperlihatkan belum selarasnya kebutuhan operasional dengan janji pengurangan emisi.
Proyek yang disorot itu disebut memiliki kapasitas hampir 5 gigawatt dan dikaitkan dengan nilai kesepakatan sekitar US$7 miliar atau setara Rp119 triliun. Berdasarkan laporan Stand.earth Research Group yang dikutip Tech Radar dan disampaikan Bisnis.com, infrastruktur tersebut disiapkan untuk menopang pusat data Microsoft yang menjalankan layanan AI dan membutuhkan pasokan listrik besar secara terus-menerus.
Tekanan kebutuhan daya mendorong pilihan energi fosil
Kebutuhan listrik untuk AI membuat perusahaan teknologi besar mencari sumber daya yang cepat tersedia dan stabil. Dalam kasus Microsoft, pilihan itu mengarah pada gas metana yang tetap menuai kritik karena bertentangan dengan upaya global menekan emisi dari bahan bakar fosil.
Proyek ini juga disebut melibatkan Chevron untuk membangun fasilitas besar di Texas, selain sejumlah lokasi lain di Amerika Serikat. Infrastruktur tersebut dirancang agar pusat data Microsoft tetap beroperasi tanpa gangguan, karena sistem AI memerlukan daya yang konsisten selama 24 jam.
Kritik diarahkan pada klaim keberlanjutan perusahaan
Langkah Microsoft memicu pertanyaan karena perusahaan selama ini cukup aktif menonjolkan agenda keberlanjutan. Senior Corporate Climate Campaigner Stand.earth, Rachel Kitchin, menilai keputusan tersebut berseberangan dengan klaim transisi energi bersih yang kerap disuarakan perusahaan.
Laporan Stand.earth bahkan menyebut proyek-proyek berbasis gas itu berpotensi menaikkan emisi karbon pusat data Microsoft hingga 160% pada 2028. Jika proyeksi tersebut terjadi, total emisi diperkirakan melampaui 25 juta ton karbon dioksida.
Target negatif karbon ikut kembali disorot
Sorotan terhadap proyek energi fosil ini ikut menyeret kembali janji Microsoft pada 2020 untuk menjadi perusahaan negatif karbon pada 2030. Namun, laporan yang dikutip menunjukkan emisi perusahaan justru naik sekitar 30% dalam beberapa tahun terakhir, seiring ekspansi bisnis cloud dan AI.
Presiden Microsoft Brad Smith tetap menyatakan keyakinan bahwa target itu masih dapat dicapai. Meski begitu, tekanan terhadap perusahaan terus meningkat karena strategi energinya dinilai belum sejalan dengan komitmen publik maupun harapan investor.
Lonjakan permintaan gas metana dari pusat data
Kebutuhan energi untuk pusat data juga terlihat dalam perubahan permintaan gas metana di Amerika Serikat. Pada 2024, pusat data disebut hanya menyumbang sekitar 5% dari permintaan gas metana, tetapi angka itu melonjak menjadi 39% hanya dalam satu tahun.
Lonjakan cepat tersebut menunjukkan besarnya beban energi yang muncul dari pengembangan model AI. Kondisi ini menjelaskan mengapa perusahaan teknologi kerap kembali pada sumber energi yang mampu dipakai segera, meski pilihan itu menambah tekanan pada target iklim jangka panjang.
Dampak yang dikhawatirkan meluas ke warga sekitar
Kritik terhadap proyek ini tidak berhenti pada persoalan emisi. Sejumlah analis juga menilai kebutuhan energi dari pusat data dapat berimbas pada kenaikan tarif listrik di wilayah sekitar jika infrastruktur harus mengejar permintaan industri besar.
Penelitian yang dikutip dalam pemberitaan itu turut menyebut penggunaan bahan bakar fosil di sekitar pusat data bisa berdampak pada kesehatan masyarakat. Biaya kesehatan berpotensi naik bila kualitas udara memburuk akibat tambahan emisi dari pembangkit berbasis fosil.
Dampak lain yang disorot adalah meningkatnya suhu lokal karena operasi pusat data menghasilkan panas dan membutuhkan sistem pendingin intensif. Dalam jangka panjang, kebutuhan pendinginan yang lebih tinggi juga bisa menambah konsumsi listrik rumah tangga, sementara klaim Microsoft bahwa seluruh kebutuhan listriknya telah ditopang energi terbarukan masih diperdebatkan karena persoalan waktu, lokasi, dan ketersediaan pasokan.
Source: teknologi.bisnis.com






