Modifikasi, Seni, dan Musik Bertemu di Kemang, Deus Kumpul-Kumpul Ride Bawa Jakarta ke Pusat Skena Kustom

Author: Redaksi Android62

Kopikina, Kemang, menjadi ruang pertemuan yang memperlihatkan betapa luasnya budaya kustom di Jakarta. Di satu lokasi, motor kustom, mobil pilihan, karya visual, dan musik hadir bersamaan dalam Deus Kumpul-Kumpul Ride yang digelar Deus Ex Machina Indonesia.

Acara ini berlangsung pada 14 Mei 2026 dan menempatkan ibu kota sebagai pemberhentian pertama setelah rangkaian dimulai dari Bali. Formatnya tidak hanya mengajak peserta riding, tetapi juga membuka ruang bagi komunitas kreatif dan pegiat modifikasi untuk saling terhubung.

Perjalanan menuju titik kumpul utama dimulai dari Taman Menteng. Rombongan lalu bergerak melintasi jalanan kota sebelum finis di Kopikina, Kemang, yang kemudian menjadi pusat aktivitas acara.

Di lokasi akhir, atmosfer berubah menjadi panggung kolaborasi bagi berbagai unsur budaya kustom. Kehadiran motor kustom dan mobil pilihan membuat acara ini terasa lebih luas daripada sekadar agenda berkendara.

Bengkel modifikasi tampil membawa karakter masing-masing

Sejumlah bengkel modifikasi ikut memamerkan karya mereka di Kemang. Batakastem Workshop, Katros Garage, Frontwheel Motorcycle, dan Lembinc menghadirkan kendaraan kustom yang menonjolkan fungsi sekaligus sisi artistik.

Deretan kendaraan itu menunjukkan beragam pendekatan dalam skena modifikasi Jakarta. Setiap karya tidak hanya dipamerkan lewat tampilan, tetapi juga lewat karakter, detail, dan identitas pembuatnya.

Kehadiran Sunset Drive Club menambah lapisan lain dalam acara tersebut. Mereka membawa mobil roda empat pilihan dan mempertegas bahwa budaya kustom tidak berhenti di motor saja.

Kombinasi roda dua dan roda empat memperlihatkan pertemuan lintas komunitas otomotif di kota besar. Dalam format seperti ini, modifikasi tampil sebagai ruang yang menghubungkan berbagai minat dalam satu perayaan bersama.

Seni visual dan musik ikut mengisi acara

Nuansa kreatif tidak hanya datang dari kendaraan. Nova13 menghadirkan live pinstriping, sementara Never Too Lavish membuka sesi sketch yang memperlihatkan proses kreatif secara langsung.

Dua elemen itu membuat pengunjung bisa melihat bahwa budaya kustom juga bertumpu pada ekspresi visual. Karya seni tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan suasana acara yang penuh objek otomotif.

Rangkaian hiburan kemudian dilengkapi penampilan musik dari Muklay, Philipponk, dan Diskopantera. Merrman menutup pertunjukan dengan energi tambahan di penghujung acara.

Perpaduan seni, musik, dan kendaraan menunjukkan bahwa skena kustom semakin dekat dengan kultur populer yang lebih luas. Di satu tempat, ketiganya hadir sebagai elemen yang saling menguatkan.

Jakarta jadi simpul awal tur komunitas

Menurut Jojo, Marketing Manager Deus Ex Machina Indonesia, Deus Kumpul-Kumpul Ride bukan semata soal titik awal atau garis akhir. Ia menekankan bahwa setiap kota dipakai sebagai ruang bertemu bagi komunitas, kreativitas, dan ide.

Pandangan itu sejalan dengan konsep acaranya yang bergerak lintas kota. Setelah Jakarta, rangkaian ini masih berlanjut ke Bandung dan Yogyakarta sebelum berakhir di Deus Ex Machina Temple of Enthusiasm.

Dengan alur seperti itu, Jakarta mendapat peran sebagai simpul pembuka yang penting. Antusiasme yang muncul di Kemang memperlihatkan bahwa modifikasi, seni, dan komunitas masih memiliki tempat kuat di tengah kota.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru