Mood Menjelang Haid Bisa Mengganggu Rutinitas, Ini Tanda Perlu Konsultasi

Author: Redaksi Android62

Perubahan emosi menjelang menstruasi dapat menjadi persoalan yang perlu diperhatikan ketika rasa sedih, marah, cemas, atau lelah mulai menghambat aktivitas sehari-hari. Keluhan yang menetap dan diikuti perubahan perilaku signifikan sebaiknya dibicarakan dengan tenaga ahli.

Kondisi tersebut tidak selalu menandakan gangguan kesehatan mental tertentu. Namun, konsultasi dapat membantu menilai pola gejala secara personal dan mencegah seseorang melakukan diagnosis sendiri saat perubahan mood terasa semakin berat.

Perubahan Hormonal Tidak Dirasakan Sama

Fluktuasi estrogen dan progesteron sepanjang siklus menstruasi dapat berkaitan dengan perubahan suasana hati pada sebagian perempuan. Dampaknya beragam, mulai dari mudah tersinggung hingga kecemasan yang lebih kuat.

Menurut penjelasan yang dihimpun Beautynesia, kadar hormon tidak memberikan dampak yang sama pada setiap perempuan. Sensitivitas tubuh terhadap perubahan hormon menjadi salah satu alasan mengapa keluhan emosional dapat terasa lebih berat pada sebagian orang.

Estrogen dan progesteron juga berkaitan dengan kerja zat kimia otak, termasuk serotonin serta dopamin. Kedua zat tersebut berhubungan dengan energi dan suasana hati, sehingga perubahan hormon dapat terasa pada kondisi fisik maupun emosional.

Fase Siklus dan Perubahan yang Menyertainya

Fase Perkiraan Waktu Perubahan yang Dikaitkan
Menstruasi Hari 1-5 Estrogen dan progesteron berada pada titik rendah
Folikuler Hari 6-12 Estrogen meningkat dan energi dapat lebih stabil
Ovulasi Hari 13-15 Estrogen mencapai puncak sebelum menurun
Luteal Mulai hari 16-18 Progesteron meningkat, lalu kedua hormon turun bila tidak terjadi pembuahan

Pada hari-hari awal menstruasi, estrogen dan progesteron umumnya berada pada kadar terendah. Penurunan estrogen dapat diikuti penurunan produksi serotonin, yang sering dikaitkan dengan rasa lelah, sedih, dan mudah marah.

Progesteron juga memiliki kaitan dengan pengendalian emosi melalui metabolit yang bekerja pada reseptor GABA di otak. Reseptor ini memiliki efek menenangkan, sehingga rendahnya progesteron kerap dihubungkan dengan peningkatan kecemasan serta perubahan mood.

Masa Ketika Energi Bisa Lebih Stabil

Memasuki pertengahan hingga akhir fase folikuler, sekitar hari ke-6 sampai 12, kadar estrogen mulai meningkat. Peningkatan ini dikaitkan dengan sintesis serotonin dan dopamin yang dapat membuat energi serta suasana hati lebih stabil.

Di akhir fase folikuler, tubuh memasuki masa ovulasi atau pelepasan sel telur. Pada siklus 28 hari, ovulasi biasanya terjadi sekitar hari ke-13 hingga 15.

Estrogen mencapai puncaknya pada masa ovulasi, sehingga sebagian perempuan dapat merasa lebih berenergi dan percaya diri. Setelah itu, penurunan estrogen menjadi salah satu penanda peralihan menuju fase luteal.

Fase Luteal Perlu Mendapat Perhatian

Pada fase luteal, progesteron meningkat sebagai bagian dari persiapan tubuh menghadapi kemungkinan kehamilan. Kadar hormon ini mencapai puncak sekitar satu minggu setelah ovulasi, ketika dinding rahim menebal untuk persiapan pembuahan.

Jika pembuahan tidak terjadi, progesteron dan estrogen kembali menurun sebelum dinding rahim luruh. Penurunan tajam tersebut dikaitkan dengan munculnya kembali keluhan emosional menjelang menstruasi berikutnya.

Tinjauan ilmiah mengenai gejala psikiatris sepanjang siklus menstruasi mencatat fase luteal dapat berkaitan dengan peningkatan kecemasan, stres, dan masalah makan pada sebagian kasus. Tinjauan itu juga menyinggung persoalan yang lebih ekstrem, termasuk percobaan mengakhiri hidup, yang dapat muncul pada fase ini.

Fase menstruasi dan pramenstruasi juga disebut dapat memperparah gejala pada perempuan dengan riwayat PTSD. Meski demikian, keluhan emosional selama periode tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.

Gangguan disforia pramenstruasi atau PMDD dapat dipertimbangkan untuk didiskusikan ketika gejala emosi berulang, berlangsung terus-menerus, dan mengganggu rutinitas. Kondisi ini berbeda dari keluhan ringan yang hanya muncul sesekali menjelang atau selama haid.

Rasa sakit, kelelahan, dan emosi yang lebih sensitif saat haid dapat menjadi respons alami tubuh. Namun, perhatian terhadap kesehatan mental perempuan penting ketika perasaan negatif menetap atau perilaku berubah secara nyata.

Berita Terbaru