Uni Eropa dan sejumlah ibu kota di Eropa bergerak serempak setelah Moskow mengancam akan menyerang target di Kyiv dan meminta warga asing, termasuk diplomat, meninggalkan ibu kota Ukraina itu. Di saat yang sama, delegasi Uni Eropa di Kyiv tetap bertahan, sementara tekanan diplomatik terhadap Rusia terus naik.
Sikap keras itu membuat Moskow dipanggil di Jerman, Norwegia, Belanda, Polandia, dan oleh layanan diplomatik Uni Eropa. Langkah tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap personel asing di Kyiv dipandang sebagai eskalasi yang tidak bisa diterima.
Brussels ikut memberi sinyal tegas
Uni Eropa menilai ancaman Rusia terhadap warga asing dan diplomat di Kyiv sudah melampaui batas. Juru bicara kebijakan luar negeri Uni Eropa, Anitta Hipper, mengatakan Rusia telah mengancam warga asing dan diplomat agar meninggalkan Kyiv.
Hipper juga menyerukan Moskow menghentikan serangan terhadap warga sipil. Ia menegaskan bahwa delegasi Uni Eropa di Kyiv tidak pergi.
Gelombang pemanggilan diplomat Rusia
Norwegia menjadi salah satu negara yang mengambil langkah cepat dengan memanggil Duta Besar Rusia Nikolai Korchunov. Menteri Luar Negeri Espen Barth Eide menyebut tindakan itu sebagai respons atas ancaman eksplisit terhadap personel asing di Ukraina.
Polandia menyampaikan pesan serupa dan meminta Rusia segera menghentikan agresi yang disebutnya ilegal terhadap Ukraina. Swedia juga ikut memanggil duta besar Rusia pada Senin malam untuk mengecam klaim palsu Moskow soal pelanggaran wilayah udara di kawasan Nordik-Baltik.
Di sisi lain, Jerman dan Belanda juga termasuk dalam daftar negara yang memanggil diplomat Rusia. Langkah kolektif ini memperlihatkan koordinasi politik yang makin rapat di Eropa.
Moskow tetap mempertahankan ancamannya
Rusia pada Senin menyatakan berniat melancarkan serangan ke target militer dan pusat pengambilan keputusan di Kyiv. Pernyataan itu muncul sehari setelah salah satu bombardemen terberat terhadap ibu kota Ukraina sejak perang dimulai.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov kemudian menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa serangan yang akan datang merupakan respons atas apa yang disebut Moskow sebagai serangan teror yang terus berlanjut dari Kyiv. Rusia juga mengaitkannya dengan serangan drone pada Jumat lalu di sebuah asrama mahasiswa di wilayah Luhansk yang dikuasai Rusia, yang menewaskan 21 orang.
Narasi yang saling bertabrakan
Pihak militer Ukraina menolak tuduhan Moskow. Kyiv menyatakan serangannya justru menghantam unit komando drone elite di wilayah tersebut, bukan sasaran sipil seperti yang diklaim Rusia.
Kedutaan Rusia di Jerman juga menolak keberatan Uni Eropa. Kedutaan itu mengatakan tujuan Rusia adalah melakukan serangan “surgical” atau terarah terhadap target militer.
Perbedaan sikap ini membuat jurang narasi antara Moskow dan negara-negara Eropa semakin lebar. Di satu sisi, Eropa melihat ancaman terhadap Kyiv sebagai risiko langsung bagi warga sipil dan diplomat, sementara Rusia bersikukuh sedang menargetkan sasaran militer.







