Perubahan lotre draft NBA langsung menggeser cara klub menilai aset mereka. Tim yang selama ini mengandalkan pilihan draft sebagai bahan bakar pembangunan ulang kini harus menghitung ulang nilai tukarnya, karena peluang masuk papan atas tidak lagi sesederhana sebelumnya.
Dewan Gubernur NBA menyetujui reformasi ini dengan suara 29-1. Liga memperluas lotre dari 14 menjadi 16 tim, lalu meratakan peluang agar lebih banyak klub tetap punya alasan untuk bertarung sampai akhir musim.
Langkah itu dirancang untuk menekan tanking, terutama di bagian bawah klasemen. Tiga tim terbawah kini terkena zona degradasi yang memberi peluang lebih kecil untuk meraih pilihan No. 1, sehingga kalah sengaja tidak lagi terasa semenarik dulu.
Efeknya langsung terasa pada tim yang biasa menutup musim dengan rekor buruk. Washington Wizards kalah 27 dari 28 laga terakhir mereka, Memphis Grizzlies menutup musim dengan rekor 5-28, dan Philadelphia 76ers disebut menempuh jalur serupa demi menjaga pick terlindungi enam besar yang kemudian menjadi milik VJ Edgecombe.
Di sisi lain, format baru ini justru memberi harapan lebih besar bagi tim yang masih berada di area play-in. Tim yang kalah di laga 7-8 serta tim peringkat 9 dan 10 kini ikut masuk lotre, sehingga lebih banyak klub punya alasan untuk mengejar kemenangan hingga pertandingan terakhir.
Perubahan itu juga membuka kemungkinan yang jarang terjadi dan sangat menarik bagi liga. Tim bisa saja melaju jauh di playoff, tetapi pada saat yang sama melihat pick mereka melonjak sampai No. 1, sesuatu yang membuat nilai setiap pilihan draft terasa semakin sulit ditebak.
Namun pembatasan baru tidak hanya menyasar tim yang sengaja kalah. NBA juga melarang sebuah tim memenangkan lotre berturut-turut atau memilih di lima besar selama tiga draft beruntun, aturan yang jelas ingin mencegah rangkaian keberuntungan seperti yang dialami San Antonio Spurs.
Spurs sendiri sudah memetik hasil besar dari tiga draft terakhir lewat pilihan No. 1, No. 4, dan No. 2. Pilihan itu dipakai untuk mengambil Victor Wembanyama, Stephon Castle, dan Dylan Harper, tetapi aturan baru tetap memunculkan perdebatan karena kualitas setiap draft tidak selalu sama.
Kritik datang dari anggapan bahwa pick No. 1 di draft yang lemah tidak selalu berarti bintang franchise. Sejarah sudah menunjukkan nama-nama seperti Andrea Bargnani, Anthony Bennett, dan Greg Oden, sehingga sebagian pihak menilai pembatasan beruntun bisa terlalu keras dalam draft dengan kualitas yang tidak merata.
Taruhan terbesar dari reformasi ini justru terasa di pasar pertukaran pemain dan pick. Karena cara peluang draft dihitung berubah, sejumlah pick yang sudah berpindah tangan untuk draft 2027, 2028, dan 2029 kini bisa bernilai sangat berbeda dari perkiraan awal.
Memphis menjadi salah satu tim yang langsung terkena dampaknya setelah memperoleh aset dari Utah Jazz dalam pertukaran Jaren Jackson Jr. Jazz sebelumnya memegang pick No. 5 dan No. 2, sehingga pick mereka musim depan tidak lagi bisa masuk lima besar dan nilai aset yang baru didapat Memphis ikut turun.
Ada pembahasan bahwa sistem itu sempat berpeluang disesuaikan agar pick Memphis tetap punya jalan ke lima besar. Meski begitu, perubahan seperti itu belum pasti, dan situasi tersebut membuat hampir semua tim harus menghitung ulang nilai aset draft mereka.
Tim yang finis paling buruk pun tidak sepenuhnya aman. Tiga tim terburuk kini bisa saja berakhir di posisi 10, 11, atau 12 bila gagal naik dari lotre, sehingga ruang aman bagi klub yang paling bawah menjadi makin sempit.
Sebagian pemangku kepentingan sempat mendorong batas yang berbeda untuk lantai tim buruk itu. Ada yang ingin garisnya lebih dekat ke urutan delapan, tetapi angka 10 dipilih karena dianggap masih cukup untuk menekan tim agar tidak menyerah terlalu dini.
Reformasi ini juga dapat mengubah cara klub membangun roster dalam jangka panjang. Selama ini, banyak tim bawah memakai pola kalah beberapa tahun, mengumpulkan pick, lalu berbalik menjadi pesaing, seperti yang pernah berhasil untuk Oklahoma City Thunder dan San Antonio Spurs.
Di sisi lain, New York Knicks menempuh jalur yang berbeda dengan free agency dan trade besar, sementara Cleveland Cavaliers memadukan pilihan top-five dengan akuisisi pemain seperti Donovan Mitchell, James Harden, dan Jarrett Allen. Dengan lotre yang makin acak, tim bisa saja lebih agresif mengoleksi pick atau justru lebih berhati-hati karena hasilnya kini terasa makin sulit diprediksi.
NBA sendiri belum mengunci sistem ini untuk selamanya. Mekanisme 3-2-1 tersebut punya klausul sunset dan akan ditinjau lagi sebelum draft 2030, sementara di internal liga sudah ada pembicaraan tentang kemungkinan sistem “draft credits” yang memberi bobot lebih besar pada manajemen roster yang cerdas.
Source: www.espn.com