Empat ruang kelas baru telah digunakan di SMAN 8 Kupang, Nusa Tenggara Timur, setelah sekolah menerima revitalisasi senilai Rp 1,2 miliar pada 2025. Tambahan bangunan itu mengurangi kekurangan ruang belajar dari tujuh kelas menjadi tiga kelas.
Perubahan tersebut memberi dampak langsung bagi sekitar 850 siswa yang sebelumnya harus belajar di ruang darurat. Jumlah siswa dalam satu rombongan belajar yang semula dapat melampaui 40 orang kini berada pada kisaran 30-an siswa.
Ruang baru itu juga membuat laboratorium Biologi, Kimia, dan Komputer kembali dipakai sesuai fungsi utamanya. Sebelumnya, ketiga laboratorium tersebut digunakan sebagai kelas agar kegiatan belajar tetap berjalan.
| Aspek | Sebelum Revitalisasi | Setelah Revitalisasi |
|---|---|---|
| Kekurangan ruang kelas | 7 ruang | 3 ruang |
| Ruang darurat | Aula dan 3 laboratorium digunakan untuk kelas | Laboratorium kembali untuk praktik |
| Jumlah siswa per kelas | Lebih dari 40 siswa | Sekitar 30-an siswa |
Kepala SMAN 8 Kupang, Samuel Djami Riwu, menyatakan keterbatasan ruang sebelumnya memaksa sekolah mengambil langkah sementara. “Kita siasati karena animo anak-anak sekolah di sini cukup besar,” ujarnya sebagaimana dikutip detik.com.
Meski empat kelas telah selesai dibangun, sekolah masih memerlukan tiga ruang belajar tambahan untuk memenuhi kebutuhan yang tersisa. Kebutuhan lain yang dinilai mendesak ialah ruang Unit Kesehatan Sekolah atau UKS.
Selama belum ada UKS, siswa yang mendadak pingsan atau sakit ditangani sementara di ruang kesiswaan. Setelah itu, siswa dapat dibawa ke puskesmas untuk penanganan lebih lanjut.
“UKS ini sebenarnya cukup mendesak karena anak-anak sering ada yang pingsan atau semaput,” kata Samuel. Ketiadaan ruang khusus membuat penanganan awal belum berlangsung di fasilitas yang semestinya.
Pembangunan di Lahan Berkontur
Pembangunan empat kelas dan dua toilet berlangsung di lahan yang dipenuhi batu karang besar maupun kecil. SMAN 8 Kupang berada di perbatasan Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, di kawasan yang dekat dengan pantai.
Kontur tanah yang tidak rata membuat proses pembangunan berbeda dengan pekerjaan di atas lahan datar. Pengawas Pembina SMAN 8 Kupang, Noh Kana Hau, mengatakan para pekerja harus menghadapi kondisi berbatu dan naik-turun.
Revitalisasi ini mengandalkan tenaga kerja dari warga sekitar, bukan kontraktor. Dana yang diterima sekolah diarahkan untuk pembangunan empat ruang kelas baru serta dua toilet.
Pagar dan Perataan Karang Menanti
Selain penambahan ruang kelas dan UKS, pihak sekolah mengusulkan pembangunan pagar pengaman. Pagar dibutuhkan untuk menjaga keamanan lingkungan pendidikan yang masih memiliki area terbuka.
Perataan batu karang di bagian depan sekolah juga masuk dalam kebutuhan lanjutan. Pembenahan area tersebut diharapkan membuat pemanfaatan lahan lebih aman sekaligus mendukung pengembangan fasilitas berikutnya.
Noh berharap pemerintah pusat kembali memberi intervensi untuk melanjutkan pembenahan di SMAN 8 Kupang. Revitalisasi yang sudah berjalan telah memperbaiki kondisi belajar, tetapi kebutuhan fasilitas sekolah belum seluruhnya terpenuhi.
