Zurich Syariah membukukan kontribusi bruto lebih dari Rp300 miliar hingga Mei 2026. Capaian itu tumbuh 17% secara tahunan, dengan asuransi kendaraan bermotor menjadi penyumbang terbesar dalam portofolio perusahaan.
Pertumbuhan tersebut terjadi ketika pergerakan kontribusi industri asuransi syariah sempat mengalami tekanan pada awal tahun. Posisi kendaraan sebagai penopang utama menunjukkan kebutuhan perlindungan atas aset yang digunakan sehari-hari tetap memiliki peran besar.
PT Zurich General Takaful Indonesia belum memerinci nilai kontribusi dari lini kendaraan bermotor. Namun, perusahaan menegaskan lini tersebut menjadi kontributor paling besar terhadap total kontribusi bruto hingga Mei 2026.
Prospek Pasar Masih Terbuka
Presiden Direktur Zurich Syariah Hilman Simanjuntak menilai peluang pertumbuhan masih tersedia hingga akhir tahun. Menurutnya, penetrasi asuransi syariah yang masih rendah dan meningkatnya kesadaran masyarakat menjadi faktor penting bagi pasar.
“Zurich Syariah melihat peluang pertumbuhan masih terbuka hingga akhir tahun, didukung oleh rendahnya penetrasi asuransi syariah dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan asuransi,” ujar Hilman, dikutip pada Rabu (22/7/2026).
Untuk menangkap peluang itu, perusahaan akan memperkuat kerja sama distribusi guna memperluas jangkauan pasar. Zurich Syariah juga menyiapkan peningkatan layanan nasabah serta berbagai langkah literasi asuransi.
Strategi tersebut diarahkan pada kebutuhan perlindungan keuangan berbasis syariah yang semakin dipahami masyarakat. Perusahaan melihat pertumbuhan tidak hanya bergantung pada produk, melainkan juga akses distribusi dan kualitas layanan.
Risiko Ekonomi dan Bencana Dipantau
Di tengah optimisme tersebut, Zurich Syariah tetap memantau sejumlah risiko hingga akhir 2026. Kondisi ekonomi nasional, potensi bencana alam, dan dinamika pasar global menjadi faktor yang memerlukan perhatian aktif.
Hilman menyatakan perusahaan tetap optimistis terhadap prospek sektor ini. “Namun, kami tetap optimistis terhadap prospek asuransi syariah hingga akhir 2026, seiring besarnya potensi pasar dan meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya perlindungan keuangan berbasis syariah,” tegasnya.
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia juga memandang prospek industri hingga akhir 2026 masih positif. Pandangan itu didasarkan pada syarat daya beli masyarakat terjaga, kegiatan ekonomi bergerak, dan ekosistem keuangan syariah terus berkembang.
Data Industri Menunjukkan Pergerakan Tajam
Data Otoritas Jasa Keuangan memperlihatkan kontribusi industri asuransi syariah mengalami pelemahan pada Januari dan Februari 2026. Nilainya kemudian meningkat pada Mei berdasarkan data dalam RDKB Juni 2026.
| Periode | Kontribusi Industri | Pertumbuhan Tahunan |
|---|---|---|
| Januari 2026 | Rp2,08 triliun | -44,77% |
| Februari 2026 | Rp3,57 triliun | -28,83% |
| Mei 2026 | Rp9,15 triliun | 18,10% |
OJK mencatat kontribusi industri pada Mei 2026 tumbuh 18,10% secara tahunan menjadi Rp9,15 triliun. Namun, keterangan data yang sama juga menyebut nilai Mei 2026 masih turun 18% secara tahunan dibandingkan Rp11,17 triliun pada Mei 2025.
Perbedaan keterangan tersebut membuat arah pergerakan industri perlu dibaca secara hati-hati. Bagi pelaku usaha, pertumbuhan kontribusi perlu dilihat bersama ketahanan daya beli dan perubahan risiko yang menyertai pasar.
Dalam situasi itu, kinerja Zurich Syariah menempatkan asuransi kendaraan sebagai pilar penting pertumbuhan perusahaan. Penguatan distribusi, layanan, dan literasi akan menjadi bagian dari upaya memperluas pasar yang masih terbuka.
