Kenaikan nilai tukar petani menjadi salah satu sinyal paling menonjol dari awal 2026 di Jawa Tengah. Pada Mei 2026, NTP provinsi ini mencapai 117,39, naik 2,16 persen dibandingkan April 2026 yang berada di level 114,90.
Peningkatan itu menunjukkan pendapatan petani tumbuh lebih cepat daripada pengeluaran mereka. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah mencatat Indeks Harga yang Diterima Petani naik 2,58 persen menjadi 152,85, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani hanya naik 0,41 persen menjadi 130,21.
Dorongan terbesar bagi kenaikan pendapatan petani datang dari gabah, bawang merah, jagung, cabai rawit, dan sapi potong. Di sisi lain, kenaikan biaya yang harus dibayar petani paling dipengaruhi oleh bawang merah, bakalan sapi, cabai merah, sawi hijau, dan cabai rawit.
Penguatan di sektor pertanian itu terjadi beriringan dengan membaiknya aktivitas ekonomi lain. Sepanjang Januari–April 2026, kunjungan wisatawan nusantara ke Jawa Tengah mencapai 56,49 juta perjalanan, tumbuh 2,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di jalur wisata mancanegara, Jawa Tengah juga mencatat perkembangan yang kuat. Hingga April 2026, jumlah kunjungan wisatawan asing mencapai 2.671 orang, dengan 2.616 orang masuk melalui Bandara Ahmad Yani Semarang dan 55 orang melalui Bandara Adi Soemarmo.
Jika dibandingkan Maret 2026, kunjungan wisman naik 25,46 persen. Secara tahunan, lonjakan itu jauh lebih tinggi karena mencapai 399,25 persen dibandingkan April 2025.
Tiongkok, Malaysia, Singapura, India, dan Thailand menjadi lima negara yang paling banyak menyumbang kedatangan wisatawan asing ke Jawa Tengah. Data ini memperlihatkan bahwa pemulihan pariwisata masih berlanjut dan ikut menjaga pergerakan ekonomi daerah.
Di saat sektor pertanian dan pariwisata menguat, perdagangan luar negeri Jawa Tengah juga tampil solid. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah mencatat nilai ekspor kumulatif Januari–April 2026 mencapai 4.567,32 juta dolar AS, naik 19,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, menjelaskan bahwa penguatan ekspor terutama ditopang industri pengolahan yang tumbuh 16,39 persen. Sektor ini tetap menjadi tulang punggung ekspor daerah dan menjaga kinerja perdagangan luar negeri tetap berada di jalur positif.
Pasar utama ekspor Jawa Tengah masih didominasi Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Belanda, dan Korea Selatan. Pada April 2026 saja, nilai ekspor Jawa Tengah melonjak 65,73 persen secara tahunan menjadi 1,38 miliar dolar AS dibandingkan April 2025.
Ekspor nonmigas pada bulan yang sama juga bergerak kuat. Nilainya tercatat 1,27 miliar dolar AS, naik 58,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, inflasi justru ikut bergerak naik meski masih dalam laju yang relatif terkendali. Pada Mei 2026, Jawa Tengah mencatat inflasi bulanan 0,23 persen, berbalik dari April 2026 yang mengalami deflasi 0,03 persen.
Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah berada di level 2,85 persen. Inflasi tahun kalender tercatat 1,19 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama kenaikan harga.
Kenaikan harga komoditas hortikultura akibat faktor cuaca ikut menekan biaya hidup di daerah. Cabai merah memberi andil inflasi terbesar sebesar 0,06 persen, disusul bawang merah 0,05 persen, cabai rawit 0,05 persen, telepon seluler 0,04 persen, dan minyak goreng 0,03 persen.
Rangkaian data itu menunjukkan Jawa Tengah memasuki 2026 dengan kombinasi yang tidak seragam, tetapi tetap mengarah pada penguatan ekonomi. Ekspor yang melonjak, NTP yang naik, dan wisatawan yang kembali ramai menjadi tiga penopang penting di tengah inflasi yang masih bergerak naik.
