Nyeri dada pada usia muda dapat menjadi tanda penyakit jantung yang membutuhkan pemeriksaan medis segera, terutama jika keluhan muncul saat aktivitas, berulang, atau disertai sesak dan keringat dingin. Kondisi ini tidak tepat jika langsung dianggap sebagai masuk angin, kelelahan, atau gangguan lambung.
Dokter Spesialis Jantung Mayapada Hospital Surabaya, dr Jeffrey D Adipranoto, SpJP (K), FIHA, FESC, FSCAI, menegaskan bahwa penyebab nyeri dada pada usia muda bisa beragam. Karena itu, evaluasi medis menjadi penting agar sumber keluhan tidak salah dikenali.
Gejala yang perlu segera dicermati
Menurut dr Jeffrey, nyeri dada akibat gangguan jantung umumnya terasa seperti dada tertekan, tertindih, atau berat di bagian tengah dada. Rasa tidak nyaman itu juga dapat menjalar ke bahu, lengan, punggung, leher, rahang, hingga ulu hati.
Selain nyeri dada, ada beberapa tanda lain yang patut diwaspadai, seperti sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, pingsan, atau jantung berdebar hebat. Gejala-gejala tersebut perlu mendapat perhatian karena bisa menandakan kondisi yang lebih serius.
| Keluhan | Ciri Utama | Catatan |
|---|---|---|
| Gangguan jantung | Dada tertekan, tertindih, atau berat | Dapat menjalar ke bagian tubuh lain |
| Gangguan lambung | Sering berkaitan dengan waktu makan dan sensasi panas di dada | Gejalanya bisa mirip penyakit jantung |
| Nyeri otot | Bisa berubah saat tubuh digerakkan atau ditekan | Sering menyerupai keluhan jantung |
Di sisi lain, gangguan lambung dan nyeri otot memang dapat menghasilkan keluhan yang mirip. Pemeriksaan medis dibutuhkan agar penyebab nyeri dada dapat dipastikan dengan tepat dan penanganannya tidak keliru.
Risiko tidak hanya ditentukan usia
Dr Jeffrey menyebut risiko penyakit jantung pada usia muda tidak hanya bergantung pada usia. Kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kurang aktivitas fisik, serta riwayat keluarga dengan penyakit jantung dini dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit jantung.
Ia juga menambahkan bahwa beberapa penyakit jantung bisa berkembang tanpa gejala khas. Kondisi itu membuat pemeriksaan medis semakin penting, terutama bila nyeri dada muncul berulang atau disertai tanda bahaya lain.
Perubahan gaya hidup membuat risiko gangguan jantung ikut naik pada usia produktif. Stres tinggi, kurang tidur, pola makan tidak sehat, dan minim aktivitas fisik menjadi faktor yang kerap memperbesar ancaman itu.
Layanan pemeriksaan dan penanganan jantung
Untuk mendukung deteksi dan penanganan penyakit jantung, Mayapada Hospital Surabaya menghadirkan Heart & Vascular Center dengan pendekatan advanced treatment, team-based management, dan emergency excellence. Pusat layanan ini juga dilengkapi Cardiac Emergency 24/7 untuk menangani kegawatdaruratan jantung secara cepat dan terintegrasi.
Rumah sakit tersebut menyediakan Chest Pain Unit untuk pemeriksaan awal pasien dengan keluhan nyeri dada maupun gangguan jantung lain, termasuk aritmia. Pemeriksaan di layanan ini diberikan gratis apabila hasil evaluasi menunjukkan tidak ditemukan gangguan jantung.
Bila dibutuhkan tindakan lanjutan, Mayapada Hospital Surabaya dapat melakukan pemasangan stent atau ring jantung melalui primary percutaneous coronary intervention atau Primary PCI. Penanganan ini mengikuti standar internasional door-to-balloon.
Layanan tersebut ditopang dokter spesialis dan subspesialis jantung serta dokter spesialis anestesi yang siaga 24 jam untuk menangani kasus darurat yang memerlukan operasi maupun perawatan intensif. Mayapada Hospital Surabaya juga menyediakan Cardiac Advisor untuk mendampingi pasien dan keluarga selama proses perawatan.
Selain itu, fasilitas Cath Lab tersedia untuk membantu diagnosis penyakit jantung secara cepat dan akurat. Informasi layanan dapat diperoleh melalui call center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, emergency call 150990, atau fitur Emergency Call pada aplikasi MyCare.
Melalui aplikasi MyCare, masyarakat juga dapat memanfaatkan fitur Personal Health untuk memantau kebugaran tubuh, mulai dari detak jantung, jumlah langkah kaki, kalori yang terbakar, hingga body mass index (BMI).
