China menargetkan angka harapan hidup rata-rata warganya mencapai 80 tahun pada 2030. Sasaran itu menjadi salah satu penekanan utama dalam Rencana Lima Tahunan ke-15 untuk periode 2026-2030 yang baru diluncurkan pemerintah.
Pencapaian tersebut bukan lagi sekadar target jauh di depan. Pada 2025, angka harapan hidup China sudah berada di 79,25 tahun, sehingga selisih menuju 80 tahun terbilang tipis tetapi tetap membutuhkan kebijakan yang konsisten.
Perawatan dari Anak-anak hingga Lansia
Salah satu langkah terbesar ada pada pengawasan kesehatan sepanjang siklus hidup. Pemerintah akan memperketat perhatian mulai dari anak-anak, kelompok usia produktif, hingga warga lanjut usia agar pencegahan penyakit berjalan lebih awal.
Di sisi pengendalian risiko kesehatan, China juga menargetkan penurunan angka perokok aktif pada penduduk usia 15 tahun ke atas menjadi di bawah 20 persen. Pada saat yang sama, pemerintah menyiapkan subsidi untuk persoalan kesuburan dengan menstandarkan diagnosis infertil dan memperluas cakupan asuransi bagi teknologi reproduksi berbantuan, termasuk bayi tabung.
| Fokus Kebijakan | Target atau Langkah |
|---|---|
| Pengendalian rokok | Menurunkan perokok aktif usia 15 tahun ke atas di bawah 20 persen |
| Kesuburan | Standarisasi diagnosis infertil dan perluasan asuransi reproduksi berbantuan |
| Kesehatan perempuan | Vaksin HPV bivalen gratis 2 dosis untuk anak perempuan usia 13 tahun |
| Lansia | Rumah sakit geriatri khusus dan sistem perawatan demensia atau disabilitas |
Program kesehatan perempuan juga masuk ke dalam paket kebijakan itu. Pemerintah menggencarkan skrining kanker serviks dan payudara, lalu memberikan vaksin HPV bivalen gratis dua dosis untuk anak perempuan usia 13 tahun melalui program imunisasi nasional.
Untuk kelompok lansia, pemerintah akan membangun rumah sakit geriatri khusus dan memperkuat sistem perawatan bagi warga yang mengalami demensia atau disabilitas. Arah ini menunjukkan bahwa target umur panjang tidak hanya bergantung pada pencegahan penyakit, tetapi juga pada kesiapan layanan perawatan jangka panjang.
Perlindungan Sosial untuk Pekerja dan Anak Disabilitas
Selain memperluas layanan kesehatan, pemerintah juga menaruh perhatian pada perlindungan sosial. Penilaian risiko penyakit akibat kerja akan diperketat, terutama pada sektor industri baru yang dinilai memerlukan pengawasan lebih serius.
Di jalur yang sama, bantuan rehabilitasi untuk anak-anak penyandang disabilitas akan ditingkatkan agar kelompok rentan tidak jatuh miskin akibat biaya pengobatan. Pemerintah juga memasang target tenaga pendukung pada 2030, yakni rasio 0,7 dokter rehabilitasi dan 1,6 terapis per 10.000 penduduk.
Digitalisasi Medis dan AI Jadi Penggerak Utama
Teknologi menjadi pilar berikutnya dalam strategi kesehatan China. Pemerintah berencana membangun platform layanan kesehatan cerdas nasional yang mampu mengintegrasikan data rekam medis dan pencitraan diagnostik secara real-time lintas provinsi.
Penggunaan kecerdasan buatan atau AI juga akan diperluas di seluruh rantai industri farmasi untuk mempercepat inovasi obat dan perangkat medis modern. Dalam dokumen yang sama, China turut menempatkan kerja sama kesehatan global sebagai bagian dari ekspansi strateginya.
Melalui kemitraan Belt and Road Initiative serta kolaborasi regional, termasuk dengan ASEAN, China ingin mendorong riset klinis dan mempercepat pengakuan global terhadap pengobatan tradisional China. Dengan rangkaian kebijakan itu, target 80 tahun pada 2030 dibangun bukan hanya dari layanan dalam negeri, tetapi juga dari penguatan ekosistem kesehatan yang lebih luas.
