Nyeri otot dan memar menjadi keluhan yang kerap muncul di kalangan pelari, terutama ketika latihan meningkat lebih cepat dari kemampuan adaptasi tubuh. Kondisi ini tidak selalu tergolong cedera berat, tetapi tetap bisa mengganggu aktivitas harian jika tidak ditangani dengan tepat.
Di tengah tren lari yang makin digemari masyarakat urban, perhatian terhadap pemulihan tubuh menjadi sama pentingnya dengan durasi atau jarak tempuh. Lari memang dikenal praktis, murah, dan mudah masuk ke rutinitas, namun tubuh tetap memerlukan jeda agar beban latihan tidak berubah menjadi masalah fisik yang berkepanjangan.
Cedera ringan yang sering datang setelah latihan padat
Dalam kedokteran olahraga, keluhan yang muncul saat berlari sering kali bukan patah atau cedera besar, melainkan peradangan akibat otot bekerja terlalu keras. Kondisi ini umum terjadi setelah latihan berulang, peningkatan intensitas yang terlalu cepat, atau waktu istirahat yang kurang.
Jika tubuh terus dipaksa bergerak tanpa pemulihan yang cukup, rasa nyeri bisa bertahan lebih lama. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya menekan rasa sakit, tetapi juga perlu membantu jaringan pulih agar proses inflamasi tidak berlarut-larut.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Zeth Boroh, Sp.KO, menegaskan bahwa pemulihan jaringan perlu dipercepat agar kondisi tidak memburuk. Pandangan ini penting karena banyak orang aktif cenderung mengabaikan keluhan ringan dan tetap berolahraga meski tubuh belum siap.
Nyeri otot dan memar kerap muncul bersamaan
Pada pelari maupun orang yang aktif bergerak, nyeri otot dan memar tidak selalu muncul sebagai keluhan yang terpisah. Keduanya sering hadir bersamaan setelah aktivitas fisik yang padat, sehingga penanganannya perlu melihat keseluruhan gejala, bukan hanya salah satunya.
Atlet lari nasional Triyaningsih menyebut nyeri otot dan memar sebagai risiko yang hampir tak terpisahkan dari latihan. Menurutnya, pemulihan yang baik dibutuhkan agar tubuh tetap bisa aktif dan performa tidak menurun.
Kondisi ini juga menjelaskan mengapa banyak orang membutuhkan solusi yang sederhana dan cepat. Dalam praktiknya, nyeri dan memar kerap ditangani secara terpisah, padahal keduanya bisa muncul pada waktu yang sama dan sama-sama menghambat pergerakan.
Kebutuhan masyarakat aktif mendorong solusi ganda
Kebutuhan itulah yang melatarbelakangi hadirnya produk dengan pendekatan dua manfaat sekaligus. Salah satu yang disebut dalam referensi adalah Thrombovoren Emulgel, yang dirancang untuk membantu meredakan nyeri sekaligus mendukung penanganan memar.
Produk ini memadukan Diclofenac Diethylamine untuk meredakan nyeri dan Heparin Sodium untuk membantu mengatasi memar. Kombinasi tersebut ditujukan bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi yang ingin tetap menjalankan aktivitas tanpa terganggu keluhan fisik yang berkepanjangan.
Marketing Product Manager Thrombovoren, Kurniawan, mengatakan pendekatan itu dibuat sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang memiliki rutinitas padat. Dalam konteks lari yang terus naik popularitasnya, solusi seperti ini dinilai relevan karena banyak pelari membutuhkan penanganan yang praktis dan sesuai jenis keluhannya.
Lari tetap sehat, asal tubuh diberi ruang pulih
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 62,6 persen penduduk Indonesia sudah memenuhi kategori cukup beraktivitas fisik. Angka ini menandakan kebiasaan hidup aktif mulai membaik, tetapi juga mengingatkan bahwa tubuh tetap memerlukan adaptasi dan penanganan yang tepat.
Saat lari menjadi bagian dari gaya hidup urban, risiko nyeri otot dan memar tidak bisa diabaikan begitu saja. Keluhan ringan yang muncul setelah latihan sebaiknya dikenali lebih awal agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih panjang dan menghambat rutinitas olahraga.
Perhatian pada pemulihan membantu tubuh kembali siap beraktivitas dan menjaga agar manfaat lari tetap terasa. Dengan begitu, langkah sehat masih bisa dijalani secara konsisten tanpa mengorbankan kondisi fisik yang justru menjadi penopang utama aktivitas tersebut.
Source: www.suara.com