OJK Nilai Pasar Modal Tetap Tahan Guncangan Saat IHSG Tertekan Gejolak Global

Author: Redaksi Android62

Otoritas Jasa Keuangan menilai pasar modal Indonesia masih menunjukkan ketahanan meski IHSG kembali melemah di tengah gejolak global. Tekanan eksternal memang masih menekan indeks, tetapi sejumlah indikator domestik disebut tetap terjaga.

Direktur Pengawasan Emiten dan Perusahaan Publik OJK, Nailin Ni’mah, menyebut tekanan terhadap IHSG masih berlanjut pada pekan Juni 2026. Ia menilai kondisi pasar belum kehilangan daya tahan karena likuiditas tetap memadai dan aktivitas transaksi harian masih bergerak aktif.

Daya tahan pasar masih terlihat

Penilaian OJK muncul saat IHSG berada di bawah tekanan yang cukup nyata. Berdasarkan data panel Bursa Efek Indonesia yang dikutip Detik Finance, indeks saham melemah 1% ke posisi 6.158,29 setelah koreksi berlanjut sejak perdagangan Rabu (17/6).

Dalam periode yang sama, pasar saham Indonesia masih sensitif terhadap sentimen dari luar negeri. Faktor global menjadi pemicu utama yang sempat menyeret indeks ke bawah level psikologis 6.000 pada beberapa waktu sebelumnya.

Nailin juga menyoroti volume jual oleh investor asing yang masih berada dalam batas terkendali. Menurutnya, kondisi itu ikut menunjukkan bahwa tekanan di pasar saham belum berkembang menjadi guncangan yang lebih luas.

Obligasi dan pengelolaan investasi ikut menunjukkan ketahanan

Di luar saham, OJK mencermati indeks obligasi nasional yang tetap stabil di tengah meningkatnya risiko global. Tidak tampak tekanan sebesar yang terjadi pada pasar saham, sehingga instrumen pendapatan tetap itu masih memberi sinyal kestabilan.

Sektor industri pengelolaan investasi juga mencatat performa positif. Kenaikan dana kelolaan dan aktivitas investasi secara year-to-date menjadi penanda bahwa minat terhadap produk pasar modal masih bertahan.

Basis investor domestik terus melebar

Program pendalaman pasar juga masih berlanjut dan memberi hasil yang cukup berarti. Nailin menyebut jumlah investor domestik telah menembus 27 juta Single Investor Identification atau SID.

OJK menilai pertumbuhan basis investor domestik penting untuk memperkuat struktur pasar dari dalam negeri. Bersama aktivitas penghimpunan dana korporasi yang masih kuat, perkembangan itu dipandang menegaskan peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian.

BEI dorong transparansi kepemilikan

Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia tengah menjalankan reformasi strategis untuk memulihkan dan memperkuat kepercayaan pemodal. Salah satu fokus utamanya adalah kebijakan pengungkapan Ultimate Beneficial Owner atau UBO.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian Manullang, mengatakan transparansi UBO diarahkan agar emiten menerapkan prinsip tata kelola yang baik, integritas, dan keterbukaan informasi secara konsisten. BEI berharap langkah itu bisa memperkuat kepercayaan investor dan meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia.

Kristian juga mendorong perusahaan tercatat meninjau struktur kepemilikan secara menyeluruh. Pengungkapan pemilik manfaat yang jelas dinilai penting agar praktik tata kelola perusahaan yang baik dapat diterapkan secara lebih konsisten di pasar modal.

Berita Terbaru