Robot bedah yang terhubung jaringan 5G berhasil membawa operasi kanker prostat ke level baru di China. Dalam tindakan yang berlangsung dari jarak sekitar 220 kilometer, dokter bisa mengendalikan prosedur dengan presisi tinggi tanpa jeda yang berarti.
Operasi itu dilakukan saat pasien berada di Kota Jingzhou, Provinsi Hubei, sementara ruang kendali berada di Rumah Sakit Tongji, Wuhan. Laporan Jimu News menyebut tindakan tersebut dipimpin akademisi Chinese Academy of Sciences, Zhang Xu, dengan dukungan tampilan gambar endoskopi beresolusi tinggi di layar besar.
Sorotan utama dari prosedur ini ada pada performa jaringan 5G. Sistem mencatat latensi bolak-balik jaringan hanya sembilan milidetik, sehingga perintah dokter, respons robot, dan umpan balik visual berlangsung sangat cepat.
Dalam operasi jarak jauh seperti ini, latensi rendah menjadi faktor penting untuk menjaga akurasi. Dokter bergantung pada kendali presisi dan gambar yang stabil agar robot bisa menjalankan instruksi secara real time.
Pasien bernama Cao, yang berusia 57 tahun, didiagnosis kanker prostat stadium awal dengan risiko menengah. Dari ruang kendali, Zhang menggerakkan lengan robot bedah untuk menangani pasien tersebut.
Tim medis melaporkan tumor prostat berhasil diangkat secara aman dan menyeluruh dalam waktu sekitar satu jam. Selama prosedur, perdarahan tercatat minimal dan tidak ada kerusakan usus.
Direktur Departemen Urologi Rumah Sakit Pusat Jingzhou, Liao Yixiang, menilai pendekatan ini memberi peluang lebih baik untuk mempertahankan fungsi saluran kemih dan fungsi tubuh lain melalui bedah presisi tinggi. Hasil operasi juga menunjukkan kombinasi robot bedah dan koneksi 5G dapat mendukung tindakan invasif minimal dengan risiko lebih rendah terhadap jaringan sehat.
Kerja sama lintas lokasi antara tim di Wuhan dan Jingzhou menjadi bagian penting dari keberhasilan tindakan ini. Model seperti itu menunjukkan layanan bedah spesialis kini makin memungkinkan menjangkau pasien di wilayah berbeda tanpa mengurangi ketepatan tindakan medis.
Bagi pasien, pendekatan tersebut berpotensi membuka peluang pemulihan yang lebih cepat dan waktu kembali beraktivitas yang lebih singkat dibanding operasi yang lebih invasif. Prosedur ini sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi komunikasi berlatensi rendah mulai membentuk cara baru dalam layanan bedah spesialis.
Source: www.beritasatu.com