Blok oposisi Israel diproyeksikan menguasai 62 dari 120 kursi Knesset apabila pemilu digelar sesuai jadwal pada 27 Oktober 2026. Perolehan itu melampaui batas 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk mayoritas parlemen.
Di sisi lain, koalisi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diperkirakan hanya memperoleh 48 kursi. Selisih 14 kursi tersebut menggambarkan tekanan elektoral yang besar bagi kubu petahana.
Kepercayaan Publik Menjadi Sorotan
Survei juga menunjukkan tingkat keyakinan publik terhadap kemampuan pemerintah saat ini dalam mengambil keputusan bagi Israel berada di bawah separuh responden. Sebanyak 38% menyatakan percaya, sedangkan 55% mengaku tidak yakin.
Angka tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi pemerintah tidak hanya berkaitan dengan proyeksi pembagian kursi. Penilaian terhadap kapasitas pemerintah turut membentuk konteks menjelang pemilihan.
| Penilaian terhadap Pemerintah | Persentase |
|---|---|
| Percaya pemerintah mengambil keputusan tepat | 38% |
| Tidak yakin terhadap pemerintah | 55% |
Likud Berhadapan dengan Penantang Setara
Dalam proyeksi tersebut, Likud pimpinan Netanyahu memperoleh 22 kursi. Jumlah itu sama dengan Yashar!, partai yang dipimpin Gadi Eisenkot dan menjadi kekuatan utama di blok oposisi.
Posisi imbang itu menandakan Likud tidak lagi berdiri sendiri di puncak persaingan dalam jajak pendapat ini. Yashar! muncul sebagai penantang yang memiliki daya tawar setara dalam perolehan kursi.
| Partai atau Blok | Proyeksi Kursi | Posisi |
|---|---|---|
| Blok oposisi | 62 | Melampaui mayoritas |
| Koalisi petahana | 48 | Di bawah mayoritas |
| Likud | 22 | Imbang dengan Yashar! |
| Yashar! | 22 | Dipimpin Gadi Eisenkot |
Mitra Koalisi Ikut Tertekan
Penyusutan dukungan turut diproyeksikan terjadi pada sejumlah mitra Netanyahu. Shas diperkirakan hanya mendapatkan tujuh kursi, turun dari 11 kursi yang diraihnya pada pemilu 2022.
Otzma Yehudit juga diproyeksikan memperoleh tujuh kursi, sementara Partai Zionis Religius bertahan pada empat kursi. Blue and White serta Balad diperkirakan tidak melewati ambang elektoral 3,25% untuk masuk Knesset.
Komposisi Pemerintahan Berikutnya
Isu tentang siapa yang akan masuk ke pemerintahan berikutnya juga menjadi bagian penting dalam survei. Sebanyak 83% responden menolak keterlibatan partai Haredi atau ultra-Ortodoks dalam koalisi pascapemilu.
Dukungan terhadap pelibatan partai Haredi hanya mencapai 8%, sedangkan 9% berada pada kategori lain. Sebaliknya, keterlibatan partai Arab dalam pemerintahan didukung oleh 70% responden.
| Isu Koalisi | Dukungan | Penolakan | Lainnya |
|---|---|---|---|
| Partai Haredi masuk koalisi | 8% | 83% | 9% |
| Partai Arab masuk pemerintahan | 70% | 10% | 20% |
Penolakan terhadap partai Arab tercatat 10%, sementara 20% responden tidak menyatakan pendapat atau menganggap isu tersebut tidak bermasalah. Temuan ini menempatkan susunan koalisi sebagai perdebatan penting di luar persaingan antarpihak.
Survei Dilakukan pada Juli 2026
Menurut jajak pendapat Maariv yang dikutip Media Indonesia, survei dilakukan bersama Panel4ALL Research pada 8-9 Juli 2026. Riset itu dipimpin Menachem Lazar dan melibatkan 500 responden berusia 18 tahun ke atas dari populasi dewasa Israel, termasuk warga Yahudi dan Arab.
Margin kesalahan maksimum survei tercatat 4,4%. Karena pemilu masih dijadwalkan pada 27 Oktober 2026, peta dukungan terhadap oposisi, Likud, dan mitra koalisi masih dapat berubah.
