Paket anggaran pertahanan Taiwan senilai 40 miliar dolar kini menjadi sorotan utama di parlemen karena pembahasannya belum juga menemui titik akhir. Di saat pemerintah menilai penundaan bisa mengganggu kesiapan militer, Washington ikut mendorong agar paket itu segera disetujui tanpa dipangkas.
Dorongan tersebut datang dari Raymond Greene, pimpinan American Institute in Taiwan, yang meminta parlemen setempat memberi lampu hijau pada rancangan anggaran yang disebutnya komprehensif. Dalam wawancara dengan China Times, Greene menekankan bahwa Taiwan sebaiknya tidak hanya menerima sebagian kemampuan yang dibutuhkan, melainkan seluruh rangkaian pertahanan yang diminta.
Tekanan Washington agar paket tetap utuh
Greene menyampaikan bahwa persetujuan anggaran yang menyeluruh akan mengirim sinyal kuat kepada komunitas internasional. Ia juga menilai sistem pertahanan udara dan rudal terintegrasi, serta drone, sudah menjadi kebutuhan penting bagi banyak negara, bukan hanya Taiwan.
Pernyataan itu sejalan dengan usulan Presiden Taiwan Lai Ching-te, yang mendorong belanja pertahanan tambahan senilai 40 miliar dolar. Paket tersebut mencakup pembelian senjata baru dari Amerika Serikat dan persenjataan buatan dalam negeri, termasuk drone.
Lai sebelumnya menegaskan bahwa Taiwan perlu memperkuat daya tangkal terhadap ancaman dari China. Beijing menganggap Taiwan sebagai wilayahnya sendiri, sedangkan Lai menyatakan hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan pulau itu.
Parlemen masih terbelah
Meski ada dukungan untuk penguatan pertahanan, pembahasan di legislatif masih tersendat. Partai oposisi utama, Kuomintang atau KMT, menyatakan tidak akan menandatangani “cek kosong” dan meminta rincian yang lebih jelas dari pemerintah.
Sikap tersebut membuat proses menuju pembahasan lanjutan berjalan lambat. Pemerintah Taiwan memperingatkan bahwa keterlambatan persetujuan bisa membuat pulau itu kehilangan posisi dalam antrean produksi dan pengiriman senjata dari Amerika Serikat.
Greene juga menyoroti bahwa sejumlah sistem yang dibutuhkan Taiwan sedang sangat diminati di pasar global. Ia merujuk pada pengalaman di Timur Tengah dan Ukraina sebagai contoh bahwa perangkat pertahanan seperti itu kini diburu banyak negara di tengah situasi konflik.
Ancaman keamanan di sekitar pulau
Di parlemen pada hari Senin, Menteri Pertahanan Wellington Koo mengatakan ancaman yang dihadapi Taiwan bukan perkara ringan. Ia menunjuk keberadaan kapal perang China yang terlihat dalam beberapa hari terakhir di perairan barat daya Kepulauan Penghu di Selat Taiwan.
Koo menilai persoalan anggaran pertahanan menyangkut “kelangsungan hidup” Taiwan. Pandangan itu memperlihatkan bagaimana pemerintah melihat penguatan militer sebagai kebutuhan mendesak di tengah tekanan keamanan yang terus meningkat.
Ketua KMT Cheng Li-wun mengambil sikap berbeda dengan menegaskan Taiwan tidak boleh dipaksa memilih antara China dan Amerika Serikat. Dalam pernyataan di radio lokal pada Senin, ia juga mengatakan dunia ikut khawatir terhadap kemungkinan perang antara China dan Taiwan.
Hubungan dengan Amerika Serikat tetap sensitif
Amerika Serikat masih menjadi pendukung internasional paling penting bagi Taiwan sekaligus pemasok senjata utamanya. Pada Desember, Washington mengumumkan paket senjata senilai 11 miliar dolar, yang disebut sebagai paket terbesar yang pernah diberikan untuk Taipei.
Namun, hubungan pertahanan Taiwan dengan Washington terus memicu ketegangan dengan Beijing. China berulang kali meminta Amerika Serikat menghentikan penjualan senjata ke Taiwan, sementara Taipei tetap mendorong dukungan yang dinilai perlu untuk menjaga daya gentar di tengah tekanan militer kawasan.
Dengan parlemen yang belum sepakat dan tekanan keamanan yang terus berlangsung, nasib paket pertahanan 40 miliar dolar itu kini bergantung pada kemampuan Taiwan membangun konsensus politik yang cukup kuat untuk melanjutkan proses pembahasan.
