Palang Perlintasan Kereta Masih Serba Darurat, Penjaga Swadaya Minta Solusi Resmi

Penutupan perlintasan liar memang sering disebut sebagai solusi keselamatan, tetapi bagi warga yang hidup di sekitar rel, persoalannya tidak sesederhana itu. Al, mantan penjaga perlintasan liar di Jawa Barat, menilai akses harian warga tetap harus dipikirkan bersama dengan penyediaan palang yang layak dan resmi.

Menurut Al, penutupan tanpa jalur pengganti justru bisa membuat mobilitas warga makin berat. Ia menyebut jarak memutar bisa sangat jauh, sementara kemacetan di jalur alternatif juga tidak ringan untuk ditanggung warga yang setiap hari melintas di kawasan itu.

15 tahun berjaga dengan alat seadanya

Al mengaku sudah 15 tahun menjaga pinggir rel. Selama itu, ia dan rekan-rekannya tidak bekerja dengan fasilitas resmi, melainkan mengandalkan perlengkapan darurat untuk mengatur kendaraan saat kereta lewat.

Peralatan yang dipakai pun sangat sederhana. Mereka hanya menggunakan bambu, tali tambang, dan pemberat yang dimasukkan ke karung untuk menutup akses perlintasan.

Kondisi itu membuat keselamatan di lapangan banyak bergantung pada inisiatif warga. Di saat yang sama, para penjaga swadaya berada dalam posisi yang rentan karena tidak memiliki status resmi yang jelas.

Minta palang resmi, bukan sekadar penertiban

Dari pengalamannya, Al berharap pemerintah dan PT KAI tidak berhenti pada wacana penutupan perlintasan liar. Ia meminta ada palang pintu resmi yang benar-benar layak agar pengamanan jalur lebih tertata.

Ia menilai warga setempat tetap bisa dilibatkan dalam penjagaan karena mereka paling memahami ritme dan kondisi lingkungan perlintasan. Namun, menurutnya, keterlibatan warga harus didukung sarana resmi, bukan perlengkapan seadanya yang jauh dari standar.

Pandangan itu juga menunjukkan bahwa masalah di lapangan tidak hanya soal keberadaan perlintasan liar. Lambatnya penanganan dan minimnya fasilitas resmi ikut membuat keselamatan warga serta petugas bergantung pada cara-cara darurat.

Kekhawatiran warga soal akses sehari-hari

Bagi warga sekitar rel, perlintasan bukan sekadar titik rawan kecelakaan. Jalur itu juga menjadi akses penting untuk bekerja, bergerak, dan menjalani aktivitas harian.

Karena itu, penutupan tanpa solusi pengganti memunculkan kekhawatiran baru. Al menegaskan bahwa jika perlintasan harus ditutup, jalur alternatif perlu disiapkan agar warga tidak harus memutar terlalu jauh.

Ia juga melihat bahwa yang dibutuhkan bukan hanya keputusan penertiban, melainkan pengelolaan yang lebih serius. Menurutnya, memperbaiki palang pintu dan menyediakan fasilitas yang memadai akan jauh lebih bermanfaat daripada membiarkan perlintasan dijaga dengan alat darurat.

Dampak sosial di balik rel

Pengalaman para penjaga swadaya memperlihatkan bahwa perlintasan kereta memiliki dampak sosial yang besar. Keputusan soal penutupan atau penataan ulang bisa langsung memengaruhi mobilitas, kenyamanan, dan aktivitas ekonomi kecil warga di sekitar rel.

Al menilai, keselamatan dan akses warga harus berjalan bersama. Ia berharap penanganan perlintasan tidak hanya memikirkan risiko di jalur kereta, tetapi juga kebutuhan masyarakat yang bergantung pada akses itu setiap hari.

Source: www.suara.com

Berita Terkait