Gig Kecil Masih Menentukan, Musisi Baru Butuh Panggung Lebih dari Sekadar Layar

Author: Redaksi Android62

Panggung langsung masih menjadi penentu penting bagi musisi baru yang ingin membangun karier secara berkelanjutan. Media sosial memang membantu karya mudah ditemukan, tetapi hubungan dengan penonton tetap lebih kuat saat musik dibawa ke hadapan publik secara langsung.

Di tengah perubahan cara musisi menjangkau pendengar, pengalaman tampil berulang kali memberi ruang yang tidak bisa digantikan oleh unggahan digital. Dari gig kecil hingga festival besar, setiap kesempatan tampil menjadi ajang untuk mengasah kemampuan, memperluas audiens, dan membentuk basis penggemar yang lebih setia.

Latihan tampil yang terus berubah

Pengalaman tiga finalis Mastercard Artist Accelerator Indonesia, yakni Rimaldi, Jingga Arshabidari, dan Gavendri, memperlihatkan bagaimana panggung bisa menjadi bagian penting dari perjalanan musisi muda. Mereka mendapat kesempatan tampil dalam beberapa format, mulai dari pertunjukan langsung hingga siaran langsung dengan jumlah penonton besar.

Rimaldi menyebut selama program berlangsung para finalis tampil empat kali dan juga sempat tampil secara langsung di TikTok. Menurut dia, setiap kesempatan membawa tantangan yang berbeda karena format panggung terus berubah dari minggu ke minggu.

Tahap Penampilan Lokasi/Format Tantangan Utama
Awal program Krapela Menampilkan karakter musik masing-masing
Pekan kedua Format lebih sederhana dan minimalis Membawakan pertunjukan dengan konsep yang lebih simpel
Pekan ketiga Kolaborasi dengan musisi lain Beradaptasi dalam kerja sama lintas penampil
Pekan keempat Aransemen ulang lagu ciptaan sendiri Mengubah genre lagu ke pop, jazz, atau gaya lain
Final M Bloc Livehouse Tampil di hadapan penonton yang lebih besar

Dalam konferensi pers Finalis Mastercard Artist Accelerator Indonesia di Jakarta, Minggu, (12/7/2026), Rimaldi mengatakan finalis mendapat satu kesempatan tampil lagi dengan durasi lebih panjang untuk memperkenalkan musik mereka. Ia menilai tantangan terbesar justru datang pada minggu terakhir karena para finalis dipaksa keluar dari zona nyaman.

Jejaring yang terbentuk di balik panggung

Bagi Gavendri, kesempatan tampil berulang kali bukan hanya soal menunjukkan karya di depan audiens yang lebih luas. Ia melihat setiap pertunjukan sebagai ruang latihan yang membantu musisi independen mengasah kemampuan sekaligus memperluas jejaring.

Program itu juga mempertemukannya dengan banyak orang baru, termasuk pelaku industri musik. Gavendri berharap jejaring yang terbentuk selama program bisa membuka peluang lebih besar setelah kompetisi berakhir.

Jingga Arshabidari menilai manfaat paling penting dari program ini justru datang dari pertemuan dengan sesama musisi. Sebagai pendatang baru, ia mengaku kerap merasa berjuang sendirian sebelum bertemu peserta lain yang punya pengalaman serupa.

Melalui kompetisi tersebut, para peserta dapat saling berbagi pengalaman dan belajar satu sama lain. Jingga juga mendapat kesempatan bertemu banyak musisi berbakat, termasuk di belakang panggung, untuk belajar membuat pertunjukan yang baik bersama-sama.

Panggung langsung belum tergantikan

Senior Vice President & Head of Integrated Marketing & Communications, Southeast Asia, Mastercard, Dheeraj Raina, menilai media sosial memang membuka akses lebih luas bagi musisi untuk merilis karya dan membangun penonton. Namun, jangkauan digital saja belum cukup untuk menopang karier dalam jangka panjang.

Menurut Dheeraj, talenta baru tetap membutuhkan ruang untuk mengembangkan kemampuan, memperoleh masukan, dan merasakan pengalaman tampil di hadapan penonton. Karena itu, program seperti Mastercard Artist Accelerator dirancang untuk menghadirkan pendampingan sekaligus pengalaman panggung yang menyerupai gig dan festival musik.

“Bagi kami, perjalanan seorang artis bukan sekadar memiliki banyak pengikut di media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka memiliki penggemar yang benar-benar mendukung karya mereka,” katanya.

Ia menambahkan, dukungan yang dimaksud bukan hanya hadir di layar, melainkan juga membeli tiket konser, mengikuti perjalanan karier, bahkan rela datang ke negara lain untuk menyaksikan penampilan mereka. Bagi Mastercard, dukungan semacam itu menjadi tanda karier yang lebih berkelanjutan.

Head of Southeast Asia, SoundOn, Tom Chou, juga menilai perjalanan menjadi musisi saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Musisi tidak hanya dituntut menciptakan dan merekam lagu, tetapi juga membangun komunitas, berbagi cerita di balik karya, menjaga hubungan dengan penonton, dan terus mencari pendengar baru.

Menurut Tom, tuntutan itu menghadirkan peluang sekaligus tantangan, terutama bagi musisi independen yang harus menjalankan banyak peran sekaligus. Karena itu, dukungan yang membantu memperluas jangkauan di berbagai platform digital dan membangun karier yang lebih berkelanjutan tetap dibutuhkan.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru