Pasar Mobil Listrik Baru 11,62 Persen, Jalan Menuju Separuh Pasar Masih Panjang

Author: Redaksi Android62

Target kendaraan listrik untuk menguasai 50 persen pasar otomotif nasional masih terasa sangat jauh dari kondisi sekarang. Angka penjualan memang terus naik, tetapi porsi pasar, kesiapan industri, dan laju konversi belum bergerak secepat ambisi itu.

Gambaran paling jelas terlihat dari data penjualan terbaru. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat wholesales mobil listrik berbasis baterai atau BEV pada Januari–November 2025 mencapai 82.525 unit dari total pasar 710.084 unit, sehingga porsinya baru sekitar 11,62 persen.

Dengan ukuran pasar kendaraan nasional yang berada di kisaran 800 ribu unit per tahun, BEV semestinya mendekati 400 ribu unit untuk mencapai separuh pasar. Artinya, volume penjualan masih perlu melonjak berkali-kali lipat dari posisi saat ini.

Pasar Tumbuh, tetapi Masih Belum Dekat ke Target

Kenaikan penjualan BEV memang terlihat jelas dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2025, penjualan BEV tercatat 103.931 unit, jauh di atas 43.188 unit pada 2024, 17.051 unit pada 2023, dan 10.327 unit pada 2022.

Pengamat otomotif Bebin Djuana menilai minat masyarakat terhadap teknologi baru menjadi modal penting bagi kendaraan berbasis baterai. Ia juga melihat Indonesia punya basis pasar luas karena jumlah penduduk besar dan sebaran wilayah dari Sabang sampai Merauke.

Meski begitu, lonjakan minat belum otomatis berubah menjadi dominasi pasar. Selama total penjualan nasional masih bertahan di level ratusan ribu unit, jalan menuju 50 persen pangsa tetap membutuhkan pertumbuhan yang sangat besar.

Konversi Motor Masih Belum Bergerak Cepat

Di luar penjualan kendaraan baru, Bebin menilai ruang pertumbuhan masih terbuka lewat konversi kendaraan lama menjadi kendaraan listrik. Ia menyebut peluang itu akan makin besar jika tenaga muda dan pelaku bengkel terus mengembangkan keterampilan di bidang tersebut.

Namun, realisasi di lapangan belum menunjukkan skala besar. Data Kementerian ESDM memperlihatkan program konversi motor listrik masih berada pada ratusan unit sejak program berjalan pada 2022.

Pada 2023, jumlah penerima bantuan tercatat 145 unit. Insentif naik menjadi Rp10 juta per unit pada 2024, tetapi biaya konversi masih sekitar Rp17 juta per unit, sehingga selisih biaya tetap menjadi salah satu penghambat utama.

Sektor Logistik Dinilai Paling Siap

Di tengah pasar ritel yang masih bergerak pelan, sektor logistik dinilai lebih siap menerima kendaraan listrik. Badan Pusat Statistik mencatat sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,98 persen secara tahunan pada kuartal IV 2025.

Studi ITDP Indonesia pada 2026 juga menunjukkan lebih dari 60 persen aktivitas pengantaran jarak dekat di perkotaan masih menggunakan sepeda motor. Komposisi ini membuat elektrifikasi armada roda dua punya peluang lebih cepat masuk ke kebutuhan operasional harian.

Dorongan efisiensi di sektor tersebut ikut membuka ruang bagi adopsi kendaraan listrik yang lebih terukur. Jika armada logistik mulai bergeser, dampaknya bisa lebih cepat terlihat dibanding menunggu perubahan besar di pasar ritel.

Industri dan Tenaga Kerja Masih Mengejar Kecepatan Pasar

Dari sisi produksi, Kementerian Perindustrian mencatat kapasitas kendaraan roda empat mencapai 2,59 juta unit per tahun dan roda dua 11,2 juta unit per tahun. Rantai pasok itu juga melibatkan lebih dari 1,5 juta tenaga kerja.

Tantangannya, kendaraan listrik membutuhkan lebih banyak komponen elektronik dan semikonduktor dibanding kendaraan konvensional. Perubahan ini menuntut kompetensi baru agar industri bisa mengikuti kebutuhan teknologi yang terus berkembang.

Kementerian Perindustrian mencatat sekitar 5.472 lulusan vokasi pada 2025 serta pengembangan 10 SMK percontohan untuk elektrifikasi otomotif. Jumlah tersebut masih terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan tenaga kerja industri yang diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Bebin menilai transformasi kendaraan listrik tetap akan berjalan, tetapi tidak bisa hanya bergantung pada penjualan unit baru. Menurut dia, konversi kendaraan lama menjadi listrik juga dapat membuka peluang bagi industri dan tenaga kerja selama ekosistemnya terus dibangun.

Berita Terbaru