Proyek pelontar EpiPen yang dibuat Emily the Engineer menunjukkan bagaimana alat sederhana berbahan pipa PVC bisa diubah menjadi perangkat yang sangat tidak biasa. Alih-alih melontarkan benda umum seperti pada alat buatan bengkel, proyek ini diarahkan untuk mengirimkan autoinjektor epinefrin ke jarak tertentu.
Gagasan tersebut terdengar ekstrem, tetapi berangkat dari kebutuhan yang nyata. EpiPen memang dirancang untuk memberikan dosis tetap epinefrin kepada orang yang mengalami anafilaksis akibat alergi, dan alat ini telah disetujui FDA pada 1987.
Dari pelontar proyektil ke alat rakitan medis
Emily mengambil konsep dasar dari alat pelontar berbasis tekanan udara yang sering dikaitkan dengan senapan kentang. Dari sana, ia mencoba memindahkan prinsip yang sama ke tujuan yang berbeda, yaitu mengirimkan obat darurat melalui tembakan jarak jauh.
Versi yang dibuat bukan sekadar tabung dengan tekanan udara. Proyek ini disusun sebagai eksperimen teknis untuk menjawab pertanyaan sederhana namun besar: apakah obat darurat bisa dikirim lebih cepat dengan alat pelontar.
Mesin rakitan yang dibuat lebih serius
Tim Emily tidak berhenti pada model paling dasar. Mereka menambahkan modul bolt-action hasil cetak 3D yang dapat menampung magasin berisi hingga empat EpiPen.
Selain itu, sebuah kompresor udara ditempatkan di dalam ransel dan dihubungkan ke launcher. Susunan ini dibuat agar setiap EpiPen mendapat tekanan udara yang konsisten saat ditembakkan, sehingga proyek tersebut terlihat seperti rekayasa yang dipikirkan dengan lebih matang.
Uji coba menunjukkan alat ini benar-benar bekerja
Setelah beberapa kali latihan, tim berhasil mengirimkan epinefrin ke balistik gel dari jarak sekitar garasi. Hasil itu membuktikan bahwa alat ini mampu mendorong obat ke sasaran, meski belum menunjukkan bahwa pendekatan tersebut aman untuk tubuh manusia.
Pengujian lain di luar ruangan memperlihatkan launcher mampu melepaskan sebuah pena sejauh sekitar 105 kaki. Namun, dari pengamatan visual, kecepatan akhirnya tampak belum cukup tinggi untuk memastikan jarum injektor menembus kulit dengan baik.
Masih jauh dari perangkat darurat yang layak pakai
Meski menarik secara teknis, proyek ini tetap berada di wilayah eksperimen. Anafilaksis membutuhkan penanganan yang cepat, akurat, dan dapat diandalkan, sementara alat seperti ini belum bisa menggantikan prosedur medis yang sudah terbukti.
Justru di situlah letak nilai proyek ini. Pelontar EpiPen buatan Emily memperlihatkan pertemuan antara kreativitas teknik dan kebutuhan medis, tetapi juga menegaskan batas antara ide yang inovatif dan alat yang benar-benar siap dipakai dalam keadaan darurat.
EpiPen sendiri tetap menjadi contoh teknologi medis yang sederhana namun penting, karena fungsinya sudah jelas dan teruji untuk kondisi anafilaksis. Sementara itu, EpiPen Launcher lebih tepat dipahami sebagai demonstrasi rekayasa yang memancing diskusi tentang kemungkinan baru dalam distribusi obat, bukan sebagai pengganti solusi medis yang sudah ada.
