Pemadaman lampu selama 60 menit di Jakarta pernah menghasilkan dampak yang terukur. Pada aksi sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat penghematan listrik sebesar 96,91 MWh dengan efisiensi biaya Rp140.226.312.
Selain menekan konsumsi energi, kegiatan itu juga tercatat menurunkan emisi karbon hingga 77,53 ton CO2e. Data tersebut memperlihatkan bahwa langkah sederhana yang dilakukan bersama-sama dapat memberi hasil nyata bagi lingkungan perkotaan.
Gerakan serupa kembali digelar pada Juni 2026
Warga DKI Jakarta kembali diajak mengikuti Aksi Hemat Energi dan Pengurangan Emisi Karbon dengan mematikan lampu selama 60 menit. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 13 Juni 2026, mulai pukul 20.30 WIB hingga 21.30 WIB.
Gerakan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai partisipasi publik menjadi kunci agar penghematan energi tidak berhenti pada satu kali kampanye saja.
Dasar kebijakan sudah tersedia
Aksi pemadaman lampu ini mengacu pada Instruksi Gubernur Nomor 14 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Pemadaman Lampu dalam Rangka Penghematan Energi dan Pengurangan Emisi Karbon. Dengan dasar aturan itu, gerakan ini menjadi bagian dari upaya resmi yang sudah memiliki landasan kebijakan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menegaskan bahwa partisipasi masyarakat memegang peran penting dalam menekan emisi karbon dan menjaga keberlanjutan lingkungan perkotaan. Ia mengajak warga menjadikan hemat energi sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari demi Jakarta yang lebih sehat dan nyaman untuk generasi mendatang.
Ajakan itu juga menekankan bahwa penghematan energi tidak hanya relevan saat kampanye tertentu. Mematikan lampu dan perangkat elektronik yang tidak dipakai dapat menjadi kebiasaan sederhana yang memberi manfaat lebih luas bila dilakukan secara konsisten.
Sejumlah ikon Jakarta ikut dipadamkan
Pemadaman dilakukan di ruas jalan protokol dan arteri, serta di berbagai ikon Jakarta. Lokasi yang ikut dipadamkan antara lain Monumen Nasional atau Monas, Patung Arjuna Wiwaha, Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Patung Pemuda, Patung Jenderal Sudirman, dan kawasan Balai Kota DKI Jakarta.
Keikutsertaan lokasi-lokasi tersebut menegaskan bahwa gerakan hemat energi ini tidak hanya berlangsung di ruang privat, tetapi juga di titik-titik penting kota. Dalam konteks Jakarta yang padat aktivitas, aksi singkat selama satu jam dapat menjadi pengingat bahwa partisipasi publik tetap menentukan hasil akhir.
Source: www.medcom.id






