Para peneliti menemukan ada jarak besar antara cara eksperimen pemanasan laut dilakukan di laboratorium dan kondisi laut yang sebenarnya. Ketika suhu air dinaikkan terlalu cepat, hasil pengujian berisiko menggambarkan stres panas yang lebih ekstrem daripada yang dialami biota laut dalam alam.
Temuan ini penting karena hasil eksperimen semacam itu kerap dipakai untuk membaca ketahanan spesies laut terhadap perubahan iklim. Jika metode pengujiannya tidak mendekati kenyataan, maka prediksi tentang masa depan ekosistem laut dan ketahanan pangan global juga bisa ikut bergeser.
Laju pemanasan di laboratorium dinilai tidak sejalan
Meta-analisis yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B Biological Sciences menunjukkan banyak studi memanaskan air laut dalam hitungan jam atau hari. Dalam banyak percobaan, hewan laut dimasukkan ke tangki lalu suhu dinaikkan cepat untuk melihat respons biologisnya.
Masalahnya, pemanasan di laut alami berlangsung jauh lebih bertahap. Karena itu, eksperimen laboratorium tidak selalu mencerminkan tekanan suhu jangka panjang yang benar-benar dihadapi organisme laut.
Ratusan penelitian dibandingkan
Tim peneliti dari Simon Fraser University meninjau lebih dari 1.000 makalah sebelum menganalisis 48 studi yang mencakup 175 eksperimen. Mereka membandingkan laju pemanasan di laboratorium dengan pemanasan alami di laut, termasuk saat gelombang panas laut terjadi.
Analisis itu juga melihat dampaknya terhadap kelangsungan hidup dan reproduksi hewan laut. Dari peninjauan tersebut, hampir setengah penelitian yang masuk analisis bahkan tidak melaporkan kecepatan kenaikan suhu yang dipakai dalam eksperimen.
Banyak metode masih terlalu ekstrem
Sekitar 29 persen penelitian langsung memasukkan hewan ke air panas tanpa proses pemanasan bertahap. Pada eksperimen yang memakai kenaikan suhu bertahap sekalipun, laju pemanasan di laboratorium kerap tetap lebih cepat dibanding gelombang panas laut paling ekstrem.
Para peneliti menilai ada ketidaksesuaian yang jelas antara tujuan dan cara pengujian. “Eksperimen yang bertujuan memprediksi efek pemanasan kronis justru mensimulasikan efek stres panas akut,” begitu penegasan tim peneliti.
Prediksi ekosistem laut ikut terdampak
Perbedaan metode ini dapat mengubah hasil penelitian secara signifikan. Dalam pemanasan mendadak, dampak terhadap reproduksi hewan laut terlihat lebih buruk, sedangkan pada pemanasan yang lebih lambat dan realistis, beberapa spesies menunjukkan efek negatif yang sebelumnya tidak tampak.
Artinya, kesalahan metode bukan sekadar persoalan teknis di laboratorium. Bila data dasarnya tidak tepat, gambaran tentang masa depan ekosistem laut juga ikut terdistorsi.
Studi lapangan dinilai perlu diperkuat
Para peneliti menilai studi langsung di habitat alami laut perlu diperkuat agar dampak perubahan iklim bisa dibaca lebih akurat. Komunitas laut yang memang terpapar kondisi masa depan secara alami dapat memberi petunjuk yang lebih baik tentang efek pemanasan laut kronis.
Pendekatan di alam juga dianggap penting karena suhu laut tidak naik seragam dan tidak selalu mengikuti pola ekstrem seperti di laboratorium. Dengan pengamatan langsung, ilmuwan bisa melihat respons biota laut dalam kondisi yang lebih mendekati kenyataan, termasuk saat laut mengalami pemanasan jangka panjang dan gelombang panas.
