Samsung membawa Galaxy Watch 8 ke ranah yang lebih serius daripada sekadar pelacak kebugaran harian. Jam tangan pintar ini kini dipakai dalam studi bersama Massachusetts General Hospital untuk melihat apakah pemantauan dari pergelangan tangan bisa membantu mendeteksi risiko susut otot pada orang yang menjalani terapi GLP-1.
Pendekatan ini menyoroti pertanyaan penting di tengah melonjaknya penggunaan obat GLP-1 sebagai terapi penurunan berat badan. Saat banyak orang fokus pada angka timbangan, para peneliti justru ingin mengetahui apakah penurunan berat badan itu ikut diiringi berkurangnya massa otot.
Studi tersebut melibatkan 100 orang dewasa yang baru memulai terapi GLP-1. Mereka dibagi menjadi dua kelompok agar peneliti bisa membandingkan manfaat pemantauan lewat Galaxy Watch dengan panduan standar yang biasa diterima pasien saat memulai pengobatan.
Kelompok pertama akan memakai Galaxy Watch untuk memantau komposisi tubuh selama terapi berlangsung. Kelompok kedua hanya menerima panduan standar, sehingga perbedaan hasil dari dua pendekatan itu bisa diamati dengan lebih jelas.
Fokus pemantauan tidak berhenti pada langkah harian atau detak jantung semata. Peneliti akan melihat data biometrik yang mencakup tingkat aktivitas, komposisi tubuh, dan detak jantung untuk menilai apakah perangkat wearable itu memberi sinyal awal perubahan tubuh selama pengobatan.
Data dari Galaxy Watch 8 tidak akan dipakai sendirian. Tim peneliti juga akan membandingkannya dengan pemantauan klinis yang lebih formal agar perubahan tubuh selama terapi bisa dibaca dengan lebih akurat.
Salah satu pembanding utama dalam studi ini adalah pemindaian DXA tingkat klinis. Pemeriksaan tersebut dipakai untuk memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai perubahan komposisi tubuh pada kedua kelompok.
Langkah ini penting karena penggunaan obat GLP-1 terus meluas, baik dalam bentuk suntik maupun oral. Popularitasnya membuat perhatian riset bergeser dari sekadar efektivitas penurunan berat badan ke efek samping yang juga dianggap penting, yaitu potensi hilangnya massa otot.
Kekhawatiran itu dinilai relevan karena kualitas penurunan berat badan kini ikut menjadi sorotan. Jika berat badan turun tetapi massa otot ikut menyusut, pemantauan yang lebih rutin bisa membantu tenaga medis menjaga hasil terapi tetap lebih baik.
Di titik inilah Galaxy Watch 8 dinilai menarik untuk diuji. Perangkat konsumen seperti ini dapat mengumpulkan data secara berkelanjutan, sesuatu yang sulit dilakukan jika hanya mengandalkan pemeriksaan klinis berkala.
Menurut data yang disebut dalam studi tersebut, hampir satu dari lima orang dewasa di Amerika Serikat pernah menggunakan obat GLP-1. Skala penggunaan yang besar itu membuat isu pemantauan dampak terapi menjadi semakin penting bagi sistem kesehatan.
Kolaborasi Samsung dan Massachusetts General Hospital sendiri bukan yang pertama. Sebelumnya, keduanya juga pernah bekerja sama dalam studi yang memanfaatkan data biometrik dari Galaxy Watch untuk mendukung hasil kesehatan mental yang lebih baik.
Kerja sama terbaru ini memperluas posisi Galaxy Watch di riset medis. Dari perangkat kebugaran, jam tangan pintar itu kini diuji sebagai alat pendukung untuk memahami perubahan komposisi tubuh selama terapi penurunan berat badan.
Meski begitu, tujuan studi ini masih sebatas menguji apakah pemantauan berkelanjutan memang memberi nilai klinis tambahan. Hasil akhirnya akan bergantung pada perbandingan antara pengguna Galaxy Watch dan kelompok yang hanya mendapat panduan standar selama menjalani terapi GLP-1.
Source: www.sammobile.com