Pembatalan Blackbird Dianggap Pukulan Berat, Eks Bos The Elder Scrolls Online Tetap Maklum Pada Xbox

Author: Redaksi Android62

Keputusan Xbox membatalkan Project Blackbird meninggalkan kekecewaan besar di tubuh ZeniMax Online Studios. Mantan direktur studio itu, Matt Firor, menyebut langkah tersebut sebagai pukulan berat karena proyek MMO baru itu sudah dibangun dalam waktu lama dan melibatkan tim yang terus membesar.

Firor menilai pembatalan itu memang sulit diterima, tetapi tetap bisa dipahami dari sisi bisnis. Dalam wawancara dengan MinnMax, ia menjelaskan bahwa industri gim sering bergerak mengikuti perubahan kalkulasi finansial, terutama ketika proyek menuntut investasi sangat besar sejak awal.

Proyek yang sudah lama berjalan

Project Blackbird bukan gagasan yang baru muncul sesaat sebelum dihentikan. Menurut informasi yang beredar, pengembangannya sudah dimulai sejak 2018 dan ZeniMax bahkan menyiapkan mesin baru khusus untuk menopang game tersebut.

Skala pengerjaannya juga terus bertambah seiring waktu. Pada 2022, lebih dari 200 pengembang disebut terlibat, lalu jumlah itu naik menjadi 300 pada Maret 2025, hanya beberapa bulan sebelum Xbox menutup proyek itu.

Alasan bisnis di balik keputusan Xbox

Firor memandang langkah Microsoft sebagai bagian dari perhitungan yang menuntut kepastian hasil. Ia menyebut perusahaan publik cenderung mencari model usaha yang lebih mudah diprediksi dari tahun ke tahun, sementara proyek gim besar sering membawa risiko yang tinggi sejak awal.

Ia juga menegaskan bahwa keputusan seperti ini bukan hal yang terjadi hanya di Xbox. Menurut Firor, perusahaan besar lain seperti EA dan Activision juga kerap mengambil langkah serupa ketika harus menimbang investasi, proyeksi, dan arah bisnis jangka panjang.

Pembatalan Blackbird sendiri terjadi bersamaan dengan langkah Xbox terhadap Everwild dan Perfect Dark, serta penutupan The Initiative. Deretan keputusan itu menunjukkan bahwa efisiensi dan peninjauan ulang terhadap proyek besar menjadi prioritas ketika perusahaan ingin menekan risiko.

Rasa kecewa dari sisi pengembang

Bagi Firor, dampak pembatalan Blackbird tidak berhenti pada angka-angka bisnis. Ia menyebutnya sebagai pukulan yang sangat berat karena konsep dasar game tersebut banyak berangkat dari gagasannya sendiri, termasuk dunia dan arah awal desainnya.

Ia menjelaskan bahwa ide itu sudah lama ia pikirkan sebelum berkembang menjadi proyek penuh di tangan tim. Meski banyak detail kemudian dibentuk bersama para desainer dan pengembang lain, Firor tetap merasa Blackbird membawa jejak kuat dari visi awal yang ia susun.

Investasi besar yang membuat proyek rentan

Salah satu faktor yang membuat Blackbird rentan adalah biaya awal yang besar. Mesin khusus yang dibangun untuk game itu dirancang agar ZeniMax bisa menjaga ritme pembaruan konten MMO secara stabil, tetapi investasi besar di awal justru membuat proyek ini lebih berat saat efisiensi biaya mulai dicari.

Firor menilai situasi itu makin terasa di tengah suasana perusahaan yang semakin ketat menimbang pengeluaran. Setelah akuisisi Activision Blizzard senilai $69 miliar, proyek ambisius dengan kebutuhan dana besar seperti Blackbird dinilai lebih mudah masuk dalam daftar evaluasi ulang.

Meski akhirnya batal dirilis, Firor tetap melihat Blackbird sebagai proyek yang punya identitas berbeda dari banyak game lain di pasaran. Ia menyebut game itu menyenangkan untuk dimainkan dan masih menyimpan potensi besar, tetapi pengembangannya belum selesai dan masih memerlukan banyak pekerjaan sebelum siap diluncurkan.

Berita Terbaru