Penanganan stroke sangat ditentukan oleh kecepatan, karena sel otak bisa rusak dalam waktu singkat saat aliran darah tersumbat. Pada stroke iskemik, keterlambatan terapi dapat berujung pada kelumpuhan, gangguan bicara, penurunan fungsi tubuh, bahkan kematian.
Itulah sebabnya golden period stroke, yaitu kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama muncul, menjadi batas yang sangat penting. Dalam rentang waktu ini, peluang pasien untuk selamat dan pulih masih jauh lebih besar dibandingkan ketika pertolongan datang terlambat.
Tanda yang tidak boleh diabaikan
Stroke sering muncul tiba-tiba, sehingga gejala awalnya harus cepat dikenali. Wajah mencong, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, bicara pelo, dan penurunan kesadaran termasuk tanda yang perlu dianggap darurat.
Begitu gejala tersebut terlihat, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas penanganan stroke lengkap. Beberapa jam saja dapat membuat pasien keluar dari golden period dan memperbesar risiko cacat permanen.
Akses cepat masih menjadi tantangan
Di banyak daerah, stroke masih menjadi persoalan serius karena banyak pasien terlambat datang ke rumah sakit. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala awal sebagai keadaan gawat darurat.
Sumatera Utara disebut memiliki prevalensi sekitar 9,3 persen, dan kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan layanan stroke yang cepat tetap besar. Keterbatasan akses ke layanan stroke terpadu juga membuat banyak pasien baru datang ketika kondisi sudah berat.
Saat pasien datang terlambat, pilihan terapi biasanya lebih terbatas. Peluang pemulihan pun umumnya tidak seoptimal pasien yang mendapat penanganan lebih cepat.
Layanan stroke perlu standar yang lengkap
Penanganan stroke tidak cukup hanya mengandalkan satu alat atau satu dokter. Rumah sakit perlu memiliki diagnosis cepat, layanan kegawatdaruratan 24 jam, tindakan medis lanjutan, dan rehabilitasi yang berbasis bukti ilmiah.
Salah satu fasilitas yang menonjol dalam layanan stroke adalah Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan. Rumah sakit swasta ini menjadi yang pertama di Indonesia meraih sertifikasi Advanced Stroke Centre dari World Stroke Organization atau WSO.
Sertifikasi tersebut diberikan kepada fasilitas kesehatan yang memenuhi standar tinggi dalam penanganan stroke. Penilaiannya mencakup kecepatan door-to-needle time, kesiapan tim multidisiplin, serta kemampuan melakukan trombektomi untuk mengatasi sumbatan pembuluh darah otak.
Koordinasi tim medis menjadi penentu hasil
Keberhasilan terapi stroke sangat bergantung pada kerja sama antarspesialis. Di Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan, penanganan didukung kolaborasi tim neurologi, radiologi, dan bedah saraf agar pasien mendapat terapi cepat dan tepat.
Chief Executive Officer Siloam Hospitals Dhirga Surya Medan, Hartono Teguh Wijaya, menyebut sertifikasi itu sebagai bagian dari komitmen rumah sakit untuk meningkatkan kualitas layanan stroke di Indonesia. Ia juga menegaskan bahwa pasien seharusnya bisa mendapat penanganan terbaik tanpa harus pergi ke luar negeri.
Rumah sakit tersebut juga pernah menerima Diamond Award dari program WSO Angels Awards dalam beberapa periode. Penghargaan itu diberikan atas capaian kecepatan diagnosis dan efektivitas terapi stroke akut.
Akses layanan cepat masih jadi pembeda utama
Keberadaan fasilitas stroke berstandar internasional di daerah diharapkan dapat memperluas akses layanan berkualitas bagi pasien. Dengan layanan yang cepat, terpadu, dan siap 24 jam, peluang pasien stroke untuk terhindar dari risiko kecacatan berat dapat meningkat secara nyata.
