Persija Jakarta masih harus menyiapkan lebih dari satu pilihan kandang untuk menjalani musim ini. Dari 15 laga kandang yang sudah mereka mainkan, enam berlangsung di Jakarta International Stadium, tujuh di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dan dua lainnya digelar di Solo.
Kondisi itu menunjukkan bahwa Macan Kemayoran belum punya satu rumah yang benar-benar pasti. Setiap pekan, klub harus menyesuaikan diri dengan ketersediaan stadion, izin keamanan, dan agenda lain yang ikut memengaruhi pemakaian venue di Jakarta.
Berbeda dengan Persija, Persib Bandung justru berada dalam situasi yang jauh lebih stabil. Klub asal Bandung itu resmi mengelola Stadion Gelora Bandung Lautan Api sejak Juli 2024, dengan masa pengelolaan selama 30 tahun ke depan.
Kepastian itu membuat Persib tidak lagi berstatus tim musafir. Pangeran Biru kini memiliki homebase tetap di kawasan Rancanumpah, Kecamatan Gedebage, sehingga kebutuhan pertandingan kandang bisa diatur dengan lebih tenang.
Situasi Persija memang tidak sesederhana menunggu satu stadion kosong. Di ibu kota, stadion tidak selalu bisa dipakai karena benturan dengan agenda non-olahraga dan jadwal perawatan.
Kendala tersebut membuat Persija kerap harus berpindah tempat untuk menjalani laga kandang. Dalam banyak momen, pilihan bermain di luar Jakarta menjadi jalan keluar ketika stadion di ibu kota tidak dapat digunakan.
Manajemen klub sempat mendapat angin segar ketika pada Februari 2025 menandatangani nota kesepahaman terkait Jakarta International Stadium sebagai markas. Sejak awal musim Super League 2025/2026, Rizky Ridho dan kawan-kawan juga cukup rutin berkandang di stadion yang berada di Jakarta Utara itu.
Namun, Persija tidak hanya bertumpu pada JIS. Klub juga mendaftarkan Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai kandang cadangan agar tetap punya opsi saat situasi berubah.
Tauhid Ferry Indrasjarief, selaku panitia pelaksana Persija Jakarta, menyebut pihaknya sudah mendaftarkan JIS sejak awal musim. Ia juga mengatakan surat jadwal satu musim telah dikirim ke GBK supaya stadion itu bisa dipakai ketika dibutuhkan.
Skema tersebut memberi Persija ruang yang lebih fleksibel saat menyusun agenda pertandingan. Jika JIS sedang dalam perbaikan, SUGBK dapat menjadi alternatif yang siap dipakai.
Meski begitu, opsi darurat tetap perlu disiapkan apabila JIS dan SUGBK sama-sama tidak bisa digunakan. Dalam keadaan seperti itu, Persija masih harus mencari kandang di luar Jakarta, yang menegaskan bahwa urusan homebase mereka belum sekuat Persib.
