Persipura Jayapura harus menjalani musim yang berat setelah Komite Disiplin PSSI menjatuhkan larangan laga kandang dengan penonton selama satu musim penuh. Hukuman itu juga disertai denda Rp30 juta untuk musim kompetisi 2026/2027 saat Persipura tampil sebagai tuan rumah.
Keputusan tersebut muncul setelah kerusuhan suporter mewarnai laga kontra Adhyaksa FC Banten pada lanjutan Pegadaian Championship 2025/2026 di Stadion Lukas Enembe, Jayapura. Dalam pertandingan itu, Persipura kalah 0-1 dan Adhyaksa FC memastikan promosi ke Super League lewat gol tunggal Adilson Silva.
Kekalahan itu memicu kekecewaan besar di tribun dan situasi kemudian memanas setelah laga selesai. Aksi anarkis dilaporkan terjadi di area stadion, termasuk perusakan fasilitas serta pembakaran sejumlah kendaraan di luar lokasi pertandingan.
Komdis PSSI menilai Persipura bertanggung jawab atas perilaku suporternya dalam duel tersebut. Penilaian itu tertuang dalam keputusan resmi bernomor 246/L2/SK/KD-PSSI/V/2026, yang menjadi dasar pemberian sanksi berat kepada klub berjuluk Mutiara Hitam itu.
Berdasarkan pertimbangan Pasal 70 Kode Disiplin PSSI Tahun 2025, hukuman yang dijatuhkan tidak hanya melarang kehadiran penonton di laga kandang. Seluruh pertandingan kandang Persipura pada musim depan harus berlangsung tanpa penonton di stadion.
Bagi Persipura, kondisi ini jelas mengubah atmosfer kandang yang selama ini menjadi kekuatan penting. Dukungan suporter yang biasanya memberi dorongan besar kini tidak bisa hadir sepanjang musim kompetisi yang terkena hukuman.
Komdis juga menilai rangkaian pelanggaran dalam insiden itu tergolong berat. Dalam pertimbangannya disebut ada invasi lapangan, pengejaran terhadap perangkat pertandingan, serta tindakan tidak sportif yang mengganggu keamanan dan jalannya laga.
Sanksi ini menjadi catatan serius bagi Persipura menjelang musim berikutnya. Selain berdampak pada suasana pertandingan, kasus di Stadion Lukas Enembe juga menegaskan bahwa perilaku suporter bisa berimbas langsung pada klub di level kompetisi.
PSSI turut memberi peringatan keras bahwa hukuman yang lebih berat bisa dijatuhkan jika insiden serupa kembali terjadi. Dengan demikian, peristiwa di Jayapura menjadi sinyal tegas bahwa keamanan dan ketertiban pertandingan tetap menjadi perhatian utama otoritas sepak bola nasional.
