Pertalite Tembus Rp 11.500 per Liter, Beban Pengendara Makin Berat di SPBU Pertamina

Author: Redaksi Android62

Kenaikan harga BBM Pertamina masih terasa di banyak SPBU pada Sabtu, 25 April 2026, setelah penyesuaian tarif diberlakukan serentak sejak pekan lalu. Dampaknya langsung terlihat pada pengeluaran harian masyarakat karena hampir semua jenis BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, ikut naik.

Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, harga yang berlaku masih mengikuti penyesuaian sejak 18 April. Pertalite RON 90 kini dipatok Rp 11.500 per liter dari sebelumnya Rp 10.000 per liter, sehingga pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat harus menyiapkan biaya lebih besar setiap kali mengisi tangki.

Harga di berbagai jenis BBM ikut terkerek

Penyesuaian yang terjadi tidak hanya menyentuh BBM subsidi. Pertamax RON 92 di wilayah Pulau Jawa sekarang berada di level Rp 14.800 per liter, padahal sebelumnya berada di kisaran Rp 12.300 sampai Rp 12.900 per liter tergantung wilayah.

Untuk kelas bensin dengan oktan lebih tinggi, Pertamax Turbo RON 98 juga ikut naik dan kini dijual Rp 16.100 per liter. Pergerakan harga ini membuat selisih biaya pengisian terasa semakin besar, terutama bagi pengendara yang terbiasa memakai BBM non-subsidi.

Di sisi lain, kendaraan diesel juga tidak luput dari penyesuaian. Biosolar CN 48 naik menjadi Rp 8.200 per liter dari Rp 6.800 per liter, sementara Dexlite CN 51 bergerak ke Rp 16.500 per liter dari sekitar Rp 13.500 per liter.

Daftar perubahan harga yang perlu diperhatikan

Berdasarkan data referensi, perubahan harga yang tercatat adalah sebagai berikut:

  1. Pertalite RON 90: dari Rp 10.000 menjadi Rp 11.500 per liter.
  2. Pertamax RON 92: dari Rp 12.300 menjadi Rp 14.800 per liter.
  3. Pertamax Turbo RON 98: dari Rp 13.400 menjadi Rp 16.100 per liter.
  4. Biosolar CN 48: dari Rp 6.800 menjadi Rp 8.200 per liter.
  5. Dexlite CN 51: dari Rp 13.500 menjadi Rp 16.500 per liter.

Daftar itu menunjukkan bahwa penyesuaian berlangsung serentak pada berbagai lini produk. Kondisi tersebut membuat konsumen perlu lebih cermat menghitung kebutuhan BBM, terutama bagi kendaraan yang digunakan setiap hari.

Dampak paling cepat terasa di pengeluaran rutin

Kenaikan harga BBM biasanya paling cepat terasa di kelompok yang bergantung pada kendaraan untuk mobilitas harian. Pengemudi ojek daring, pemilik motor pribadi, dan pengguna mobil keluarga menjadi pihak yang paling sering menambah biaya operasional dalam waktu singkat.

Di lapangan, pertanyaan soal harga bahan bakar juga menjadi pembahasan yang terus muncul di SPBU. Situasi ini wajar karena perubahan tarif harian langsung memengaruhi anggaran perjalanan kerja, aktivitas usaha, hingga kebutuhan distribusi kecil di lingkungan masyarakat.

Dilansir dari CNBC Indonesia, penerapan harga terbaru dilakukan serentak di SPBU seluruh Indonesia untuk menjaga ketersediaan pasokan. Dalam laporan yang sama, penyesuaian ini dikaitkan dengan harga minyak mentah dunia dan pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS.

Selisih harga antardaerah masih ada

Meski kebijakan berlaku nasional, harga BBM di sejumlah wilayah tidak selalu sama persis. Laporan referensi menyebutkan bahwa daerah di Sumatera seperti Riau dan Sumatera Barat umumnya memiliki harga sedikit lebih tinggi dibandingkan Aceh atau Pulau Jawa.

Perbedaan itu muncul karena adanya komponen pajak bahan bakar kendaraan bermotor atau PBBKB di masing-masing provinsi. Akibatnya, harga di luar Pulau Jawa bisa berbeda sekitar Rp 200 hingga Rp 500 per liter, bergantung pada kebijakan pajak daerah.

Bagi konsumen, kondisi ini membuat pengecekan harga sebelum mengisi bahan bakar menjadi semakin penting. Dengan tarif yang masih tinggi dan selisih antardaerah yang tetap ada, pengeluaran harian masyarakat tetap berada dalam tekanan, terutama bagi mereka yang mengandalkan kendaraan untuk bekerja dan menjalankan usaha.

Berita Terbaru