Pertamina Tegaskan Tak Ada LPG Menuju Indonesia, Dua Kapalnya Justru Tertahan Di Selat Hormuz

Author: Redaksi Android62
Add on Google

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan bahwa kabar soal tanker LPG yang disebut bergerak dari Selat Hormuz menuju Indonesia tidak benar. Klarifikasi ini disampaikan setelah informasi tersebut ramai dibahas dan menimbulkan kebingungan mengenai pasokan energi yang melintas di jalur pelayaran strategis itu.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyampaikan bahwa data yang beredar tidak cocok dengan informasi resmi yang diterima pemerintah. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada kargo LPG yang sedang dikirim untuk Indonesia melalui jalur tersebut.

Penjelasan itu muncul setelah perusahaan analitik pelayaran Kpler menyebut ada kapal tanker berbendera Panama bernama Crave yang membawa LPG dari Uni Emirat Arab dengan tujuan Indonesia. Namun, keterangan tersebut dibantah karena tidak sesuai dengan data dari pihak terkait.

Dwi Anggia menegaskan bahwa laporan yang beredar tidak tepat. Ia menyampaikan kepada Kompas.com, Rabu (22/4/2026), bahwa informasi dari Pertamina memastikan tidak ada muatan LPG untuk Indonesia dalam pergerakan kapal yang dimaksud.

“Sejauh ini laporan dari Pertamina dipastikan informasi yang beredar tersebut tidak benar. Kapal Pertamina hanya Pride dan Gamsunoro. Tidak ada kargo LPG yang dibawa untuk Indonesia,” ujarnya.

Posisi dua kapal Pertamina di kawasan itu

Di tengah sorotan terhadap Selat Hormuz, perhatian juga tertuju pada dua kapal milik PT Pertamina International Shipping yang berada di wilayah tersebut. Meski sempat tercatat tertahan di jalur itu, keduanya tidak mengangkut LPG untuk kebutuhan dalam negeri.

VLCC Pertamina Pride disebut membawa minyak mentah jenis light crude oil. Sementara itu, Gamsunoro mengangkut kargo milik pihak ketiga, bukan suplai LPG untuk Indonesia.

Pemerintah menilai penjelasan ini penting agar publik tidak keliru membaca jenis muatan kapal yang melintas. Perbedaan antara kapal yang beroperasi di bawah Pertamina dan kapal yang muncul dalam laporan pelayaran perlu dipahami secara tepat.

Pjs. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, juga menegaskan bahwa kabar tentang kargo LPG bukan bagian dari operasional perusahaan. Ia menyebut kapal maupun kargo yang disebut dalam rumor itu tidak bisa dikaitkan dengan armada Pertamina.

“Itu bukan kapal maupun kargo Pertamina ya,” kata Vega.

Pergerakan kapal di Selat Hormuz

Sorotan terhadap kabar ini tidak lepas dari dinamika di Selat Hormuz yang sempat terbuka dan kembali menjadi perhatian. Kpler sebelumnya mencatat lebih dari 20 kapal melintasi jalur itu pada Sabtu (19/4/2026) saat Iran sempat membuka lintasan tersebut.

Dalam catatan itu, lima kapal disebut membawa produk minyak hingga logam dari Iran. Tiga kapal LPG lain juga terpantau bergerak menuju China dan India.

Sejumlah kapal lain ikut melintas dengan tujuan berbeda. Akti A dan Athina disebut mengangkut produk olahan minyak ke Mozambik dan Thailand, sedangkan Navig8 Macallister membawa 500.000 barel nafta menuju Korea Selatan.

Klarifikasi untuk menjaga kejelasan pasokan energi

Data pergerakan kapal menunjukkan Selat Hormuz tetap menjadi jalur penting dalam perdagangan energi dan logistik global. Di saat yang sama, jalur ini juga mudah memunculkan spekulasi ketika informasi yang beredar belum terverifikasi dengan baik.

Karena itu, ESDM menegaskan kembali bahwa kabar adanya tanker LPG menuju Indonesia tidak sesuai dengan informasi resmi. Pemerintah dan Pertamina sama-sama menyatakan tidak ada kargo LPG untuk Indonesia yang sedang dikirim melalui jalur Selat Hormuz.

Klarifikasi tersebut sekaligus memperjelas bahwa armada Pertamina yang berada di kawasan itu tidak membawa suplai LPG bagi Indonesia. Publik diminta merujuk pada data resmi agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai kondisi pasokan energi nasional.

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terbaru