Kabupaten Brebes tengah disiapkan menjadi lokasi pengembangan peternakan sapi perah terpadu berskala besar yang diproyeksikan mengubah peta pasokan susu nasional. Fasilitas ini dirancang menampung 30 ribu ekor sapi perah dan disebut berpeluang menjadi yang terbesar di Indonesia.
Proyek yang dikembangkan PT Global Dairy Bersama itu berdiri di atas lahan sekitar 710 hektare dan tidak hanya berfokus pada kandang ternak. Kawasan ini juga disiapkan sebagai ekosistem produksi terintegrasi dengan pabrik pengolahan susu, pabrik pakan, serta area perkebunan jagung untuk mendukung kebutuhan bahan baku.
Dorongan untuk menutup defisit susu nasional
Pemerintah menilai kehadiran peternakan besar di Brebes dapat menjadi salah satu jawaban atas rendahnya produksi susu dalam negeri. Saat ini, produksi nasional baru sekitar 1 juta ton per tahun, sementara kebutuhan mencapai 4,7 juta ton per tahun.
Selisih kebutuhan yang besar itu membuat sekitar 80 persen konsumsi susu nasional masih dipenuhi dari impor. Dalam kondisi tersebut, tambahan pasokan dari Brebes dipandang strategis untuk memperkuat ketersediaan susu domestik.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menyebut proyek ini berpotensi memberi kontribusi besar terhadap produksi nasional. Jika berjalan sesuai target, fasilitas tersebut dapat menyumbang hingga 18 persen dari total produksi susu Indonesia.
Skala produksi dan fasilitas pendukung
Rancangan kawasan peternakan ini mengusung sistem terintegrasi dari hulu ke hilir. Selain menghasilkan susu, area tersebut juga menyiapkan infrastruktur pendukung agar rantai produksi berjalan lebih stabil dan efisien.
Berikut ringkasan data utama proyek tersebut:
- Kapasitas ternak: 30 ribu ekor
- Luas lahan: 710 hektare
- Target produksi: 180 ribu ton per tahun
- Kontribusi potensial: hingga 18 persen produksi susu nasional
- Kebutuhan susu nasional: 4,7 juta ton per tahun
Komponen pendukung seperti pabrik pakan dan perkebunan jagung disiapkan untuk menjaga suplai bahan baku tetap terjaga. Dengan model seperti ini, peternakan tidak hanya bergantung pada satu mata rantai produksi, tetapi membangun sistem yang saling terhubung.
Dukungan bibit dan kesehatan hewan
Untuk memastikan proyek berjalan sesuai standar, pemerintah pusat ikut memberi dukungan pada penyediaan bibit sapi impor. Bibit tersebut berasal dari Australia, Amerika Serikat, Selandia Baru, dan Brasil.
Selain bibit, perhatian juga diarahkan pada penguatan sistem kesehatan hewan. Langkah ini dinilai penting karena skala peternakan yang besar membutuhkan pengelolaan populasi ternak yang ketat agar operasional tetap aman, efisien, dan berkelanjutan.
Aspek pakan dan kesehatan hewan dipandang menjadi dua faktor yang sangat menentukan stabilitas produksi susu. Tanpa pengelolaan yang baik, kapasitas besar saja tidak cukup untuk menjaga target produksi tetap tercapai.
Jadwal pembangunan menuju operasional
Perwakilan PT Global Dairy Bersama, Ihsan Mulia Putri, menjelaskan bahwa pembangunan akan dimulai dari tahap cut and fill pada Juni. Setelah itu, konstruksi ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada akhir tahun berikutnya.
Tahap first milking direncanakan berlangsung pada Desember tahun yang sama. Rangkaian waktu ini menunjukkan bahwa proyek Brebes tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga disiapkan sebagai basis industri susu yang terintegrasi.
Harapan ekonomi bagi daerah
Bupati Brebes Paramitha Widya Kusuma menyambut proyek ini sebagai peluang ekonomi baru bagi daerah. Ia menilai investasi berskala nasional tersebut dapat membuka lapangan kerja sekaligus menggerakkan sektor pendukung di sekitarnya.
Dukungan juga datang dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang menegaskan bahwa proyek ini sejalan dengan arah pembangunan daerah menuju swasembada pangan. Dengan kapasitas besar, dukungan teknologi, dan rantai pasok yang dirancang terintegrasi, Brebes kini diposisikan sebagai salah satu titik penting dalam penguatan industri susu dan ketahanan pangan Jawa Tengah.
Source: jateng.antaranews.com