Piala Dunia 2026 Membongkar Wajah Baru Persatuan, Iman Berbeda Justru Menyatu di Lapangan

Author: Redaksi Android62

Piala Dunia 2026 memperlihatkan satu hal yang melampaui soal taktik dan trofi, yakni kemampuan tim nasional merangkul perbedaan iman di ruang ganti. Di tengah polarisasi sosial yang tajam di sejumlah negara peserta, turnamen ini justru menghadirkan contoh bahwa pemain dari latar agama dan budaya berbeda masih bisa bergerak dalam satu tujuan.

Di lapangan, keberagaman itu tampak tidak sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari identitas tim. Para pemain tetap menjalankan keyakinan masing-masing, lalu kembali bekerja sama untuk hasil yang sama, yaitu kemenangan untuk negaranya.

Skuad Eropa Barat Menjadi Cermin Perubahan

Di banyak tim nasional Eropa Barat, komposisi pemain kini makin beragam. Timnas Inggris, misalnya, diperkuat pemain muslim untuk pertama kalinya, sementara Prancis dihuni pemain berlatar Protestan, Katolik, dan Islam.

Spanyol juga menonjol lewat Lamine Yamal yang dikenal sebagai muslim taat. Perubahan ini tidak lepas dari realitas sosial di negara-negara tersebut, termasuk meningkatnya jumlah imigran muslim dalam beberapa tahun terakhir.

Simbol Keagamaan Tidak Menghalangi Kekompakan

Eboo Patel, Presiden Interfaith America, menilai simbol keagamaan yang ditampilkan para pemain mengirim pesan kuat. Ia menyebut pemandangan pemain Kristen membuat tanda salib dan pemain muslim berdoa dengan caranya masing-masing sebagai sesuatu yang “simbolis sekaligus nyata”.

Patel menegaskan bahwa keberagaman itu tidak mengganggu kekompakan tim. “Mereka mencetak gol, berdoa sesuai keyakinan masing-masing, lalu saling berpelukan,” ujarnya.

Mohamed Salah dan Efek Sosial di Liverpool

Mohamed Salah menjadi salah satu nama paling menonjol saat membahas ekspresi iman di sepak bola modern. Penyerang Mesir yang lama menjadi bintang Liverpool itu dikenal sebagai Muslim Sunni dan kerap melakukan sujud syukur setiap kali mencetak gol.

Pengaruhnya bahkan terasa di luar pertandingan. Sejumlah penelitian menunjukkan unggahan bernada antimuslim dari suporter Liverpool menurun signifikan setelah kehadiran Salah di klub tersebut.

Identitas Kristen dan Muslim Sama-Sama Tampil Terbuka

Dari Kroasia, Luka Modric menunjukkan keterikatan kuat dengan iman Katolik yang dianutnya. Pemain berusia 40 tahun yang tampil pada Piala Dunia kelima itu kerap mengenakan pelindung tulang kering bergambar Yesus Kristus dan Bunda Maria.

Sebelum berangkat ke Amerika Serikat untuk mengikuti Piala Dunia, Modric bersama sejumlah pemain Kroasia juga menghadiri misa di sebuah kapel di Icici. Di sisi lain, bek Inggris Djed Spence mencatat sejarah sebagai pemain muslim pertama yang tampil untuk tim nasional senior Inggris setelah enam kali memperkuat tim U-21.

“Senang bisa mencetak sejarah dan semoga dapat menginspirasi anak-anak muda di seluruh dunia,” kata Spence kepada BBC.

Lamine Yamal dan Marc Guehi Sama-Sama Menarik Sorotan

Lamine Yamal kembali menjadi perhatian publik karena latar keluarganya dan sikapnya yang terbuka terhadap isu kemanusiaan. Pemain muda Spanyol yang memiliki ayah keturunan Maroko itu sempat menuai sorotan internasional setelah mengibarkan bendera Palestina saat perayaan gelar juara Liga Spanyol bersama Barcelona pada Mei lalu.

Aksi itu memunculkan beragam reaksi, termasuk kritik dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menilai tindakan tersebut memicu kebencian. Di Inggris, Marc Guehi juga dikenal terbuka soal iman Kristennya sebagai putra seorang pendeta di London.

Guehi pernah menjadi perhatian saat menuliskan pesan keagamaan pada ban kapten dalam kampanye Liga Inggris yang mendukung inklusi LGBTQ+. Meski melanggar aturan Federasi Sepak Bola Inggris yang melarang pesan keagamaan pada perlengkapan pertandingan, ia tidak mendapat hukuman.

Irak dan Amerika Serikat Menunjukkan Komposisi Serupa

Keberagaman serupa juga tampak di timnas Irak yang dihuni pemain dari berbagai kelompok, termasuk Kurdi, Muslim Sunni, Muslim Syiah, dan umat Kristen. Komposisi itu menjadi perhatian khusus karena populasi umat Kristen di Irak menurun drastis dalam dua dekade terakhir.

Salah satu pemainnya, Aimar Sher, menunjukkan keyakinannya secara terbuka di media sosial dengan mengunggah foto mengenakan kaus bertuliskan “I Belong to Jesus”. Dari Amerika Serikat, kapten Christian Pulisic juga tidak menutupi identitas Kristennya dan kerap mengenakan kalung salib pemberian ibunya.

Pulisic beberapa kali memimpin kegiatan pembacaan Alkitab bersama rekan-rekan setimnya. Beberapa pemain lain seperti Weston McKennie dan penjaga gawang Matt Freese juga terbuka soal iman mereka, memperlihatkan bahwa ruang kepercayaan pribadi tetap hidup di tengah tuntutan performa tim nasional.

Piala Dunia 2026 akhirnya menunjukkan bahwa keberagaman agama dan budaya tidak harus menjadi garis pemisah. Di lapangan, perbedaan justru bisa menjadi modal sosial yang memperkuat solidaritas, membangun rasa saling hormat, dan menghadirkan pesan persatuan yang melampaui batas negara serta keyakinan.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru