Di balik janji kemudahan, eSIM masih membuat banyak pengguna harus melewati serangkaian proses tambahan yang tidak selalu terasa praktis. Teknologi ini memang menghapus kartu fisik, tetapi kendali aktivasi dan perpindahan nomor tetap banyak berada di tangan operator.
Kondisi itu membuat eSIM belum sepenuhnya menjadi solusi yang sesederhana promosi awalnya. Bagi sebagian pengguna, layanan ini justru terasa seperti lapisan digital baru yang menuntut verifikasi, kebijakan khusus, dan langkah administratif sebelum nomor bisa dipakai dengan lancar.
Salah satu alasan eSIM sempat menarik perhatian adalah karena teknologi ini dapat memangkas kerepotan yang biasa muncul saat memakai SIM fisik. Pengguna tidak perlu lagi menukar kartu secara manual ketika berganti perangkat, dan nomor dapat diaktifkan secara digital melalui ponsel.
Manfaat itu terasa paling jelas saat berada di luar negeri. Dalam kondisi tertentu, pengguna bisa menghindari biaya roaming yang mahal karena paket data atau nomor bisa diaktifkan tanpa harus mencari kartu lokal di bandara tujuan.
Layanan seperti Saily, misalnya, menawarkan perpindahan yang lebih mulus ketika pengguna berada di negara tertentu. Namun, kemudahan tersebut tidak otomatis hadir di semua situasi karena aktivasi tetap bergantung pada operator, bukan semata pada teknologi eSIM itu sendiri.
Faktor operator ini menjadi titik penting yang sering membuat pengalaman pengguna berbeda-beda. Ponsel yang terkunci pada jaringan tertentu tetap tidak bisa memakai eSIM dari penyedia lain, sehingga kebebasan yang dijanjikan teknologi ini masih memiliki batas yang cukup jelas.
Masalah lain muncul ketika nomor harus dipindahkan ke perangkat baru. Pada SIM fisik, proses itu biasanya cukup sederhana karena kartu bisa dicabut dari ponsel lama lalu dipasang ke ponsel baru selama kartu masih aktif.
Situasinya berubah saat nomor sudah terikat pada eSIM. Jika ponsel lama rusak atau dicuri, pemindahan nomor bisa memerlukan langkah tambahan, bahkan dalam beberapa kasus pengguna perlu menghubungi layanan pelanggan terlebih dahulu.
Di sinilah eSIM terlihat tidak sepenuhnya menghapus kerumitan lama. Formatnya memang digital, tetapi proses perpindahan nomor justru bisa menambah lapisan administrasi yang dulu tidak terlalu terasa ketika masih memakai kartu fisik.
Operator juga punya alasan mengapa verifikasi ekstra diterapkan. Tanpa kartu fisik, identitas nomor menjadi lebih bergantung pada mekanisme digital, sehingga perlindungan tambahan dibutuhkan agar penyalahgunaan tidak mudah terjadi.
Namun, lapisan keamanan itu sering dirasakan sebagai hambatan oleh pengguna yang ingin memindahkan nomor secepat mungkin. Bagi orang yang jarang mengganti ponsel, proses ini mungkin bukan masalah besar, tetapi bagi pengguna yang sering berpindah perangkat, alurnya bisa terasa terlalu panjang.
Situasi ini memperlihatkan adanya pertukaran kepentingan yang belum selesai. Di satu sisi, operator ingin mencegah penipuan SIM-swap virtual, tetapi di sisi lain pengguna tetap menginginkan proses yang ringkas dan mudah dijalankan.
Masalah utama eSIM akhirnya tidak berhenti pada teknologinya, melainkan pada ekosistem yang belum sepenuhnya siap. Selama belum ada standar universal untuk pendaftaran dan transfer, pengalaman pengguna akan tetap bergantung pada aturan masing-masing operator.
Itulah sebabnya perpindahan eSIM antarperangkat yang idealnya bisa dilakukan langsung dari ponsel ke ponsel masih terasa jauh dari sederhana. Proses seperti memindahkan eSIM dari iPhone ke Android, atau sebaliknya, masih membutuhkan penyederhanaan agar benar-benar mendekati janji awalnya: praktis, cepat, dan minim kerumitan.
