Setelah Nol hingga 3 Jam per Malam, PM Jepang Akhirnya Tidur 5 Jam

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi akhirnya tidur selama lima jam saat libur akhir pekan tiga hari yang berakhir pada 20 Juli 2026. Durasi itu terasa tidak biasa karena ia sebelumnya mengaku kerap hanya beristirahat nol hingga tiga jam setiap malam.

Tambahan waktu tidur tersebut menjadi sorotan karena terjadi di tengah rutinitas kerja yang padat di pemerintahan Jepang. Takaichi menyatakan istirahat yang lebih panjang membantunya memulihkan tenaga sebelum kembali menjalani agenda kerja.

Pengakuan itu disampaikan Takaichi melalui unggahan di akun X pada Senin, 20 Juli 2026. Ia menulis, “Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya bisa tidur selama lima jam, serta langsung mengerjakan setrika dan jahitan yang selama ini saya tunda.”

Libur tiga hari di Jepang berlangsung pada 18-20 Juli dengan Hari Marinir diperingati pada hari terakhir. Selain tidur lebih lama, Takaichi memanfaatkan waktu luang untuk mencuci pakaian dan mempelajari dokumen kebijakan.

Perbandingan durasi istirahat

PeriodeDurasi tidurKonteks
Sejak menjabat0-3 jam per malamRutinitas kerja padat
Libur 18-20 Juli 20265 jamLibur akhir pekan tiga hari
Pernyataan pada November lalu2-4 jam per malamRapat komite legislatif

Pola tidur singkat itu berkaitan dengan kebiasaan Takaichi mempelajari dokumen hingga larut malam atau dini hari pada hari kerja. Kegiatan tersebut tetap dilakukannya setelah kembali ke kediaman resmi.

Salah satu dokumen yang ditelaah adalah Kebijakan Dasar tentang Pengelolaan dan Reformasi Ekonomi dan Fiskal. Takaichi menyebut penelaahan dokumen itu dilakukan secara saksama pada 18 dan 19 Juli.

Istirahat sebagai tanggung jawab pemimpin

Jam kerja dan waktu tidur Takaichi kembali memantik kritik dari kalangan oposisi. Pemimpin partai oposisi Yuichiro Tamaki menilai seorang perdana menteri perlu menempatkan istirahat sebagai bagian dari tanggung jawab pekerjaannya.

Dalam konferensi pers pada Selasa, 21 Juli 2026, Tamaki mempertanyakan penggunaan waktu Takaichi. “Beristirahat adalah bagian dari pekerjaannya. Saya bertanya-tanya, apakah akan lebih baik jika ia memfokuskan waktu berharganya pada keputusan dan tugas-tugas yang hanya dapat ditangani oleh perdana menteri?” katanya.

Sorotan terhadap pola kerja Takaichi bukan kali pertama muncul. Pada November lalu, ia pernah menjadi perhatian setelah mengadakan rapat staf pada pukul 3 dini hari untuk mempersiapkan sidang parlemen.

Dalam rapat komite legislatif pada periode yang sama, Takaichi mengatakan tidur sekitar dua jam dan paling lama empat jam setiap malam. Ia juga mengakui pola istirahat tersebut berdampak buruk terhadap kondisi kulitnya.

Tekanan budaya kerja Jepang

Pernyataan Takaichi muncul ketika pemerintah Jepang masih menghadapi tantangan untuk menekan kebiasaan kerja yang melelahkan. Isu ini menjadi sensitif karena jam kerja panjang dan tekanan tinggi telah lama membebani banyak pekerja di negara tersebut.

Jepang mengenal istilah karoshi, yang merujuk pada kematian akibat terlalu banyak bekerja. Pemerintah telah berupaya mengurangi beban kerja, tetapi pengakuan Takaichi memperlihatkan tekanan itu masih tampak hingga tingkat kepemimpinan nasional.

Source: www.kompas.com
Berita Terkait