PMDN Melesat Di Awal 2026, Modal Domestik Mulai Menyamai Arus Asing

Arus investasi domestik tampil sebagai motor yang paling menonjol pada awal 2026. PMDN mencapai Rp 248,8 triliun dan hampir menyamai PMA yang berada di level Rp 250 triliun, sehingga komposisi modal terlihat seimbang di tiga bulan pertama tahun ini.

Bagi ekonomi nasional, pola seperti ini penting karena pertumbuhan tidak lagi bergantung pada satu sumber modal saja. Total realisasi investasi pada kuartal I-2026 pun tembus Rp 498,8 triliun, atau sudah setara 24,4 persen dari target tahunan Rp 2.004,1 triliun.

PMDN mengirim sinyal paling kuat

Di tengah capaian yang berimbang itu, penguatan PMDN menjadi sorotan utama. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics Indonesia, Mohammad Faisal, menilai pertumbuhan terbesar justru datang dari investasi domestik.

Faisal menyebut minat investasi asing saat ini cenderung lebih terbatas pada sektor tertentu. Meski begitu, ia masih melihat tambahan modal asing di sektor-sektor yang terkait hilirisasi.

Ia juga menilai tren penguatan investasi domestik sebenarnya sudah mulai terlihat sejak 2025. Menurut dia, pembelian barang modal dari pemerintah maupun swasta ikut meningkat dan banyak tercatat dalam klasifikasi PMDN.

Sebaran investasi lebih luas ke luar Jawa

Selain dari sisi sumber modal, distribusi investasi pada awal 2026 juga menunjukkan pergeseran yang menarik. Investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp 251,3 triliun atau 50,4 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan Pulau Jawa yang membukukan Rp 247,5 triliun.

Pola ini menunjukkan arus modal tidak lagi terkonsentrasi pada satu wilayah saja. Dengan sebaran yang lebih merata, aktivitas ekonomi di daerah berpeluang ikut bergerak dan membuka pusat pertumbuhan baru.

Sektor logam, jasa, dan properti menjadi tujuan utama

Jika dilihat dari sektornya, industri logam dasar dan barang logam menjadi penerima investasi terbesar dengan nilai Rp 69,4 triliun. Di bawahnya ada sektor jasa lainnya yang mencatat Rp 64,2 triliun.

Sektor properti juga ikut menyerap modal dalam jumlah besar. Realisasinya mencapai Rp 48,4 triliun, mencakup perumahan, kawasan industri, dan perkantoran.

Setelah itu, sektor transportasi dan pergudangan menyusul dengan investasi Rp 45,4 triliun. Kombinasi arus ke properti dan logistik memperlihatkan bahwa investasi tidak hanya mengalir ke industri pengolahan, tetapi juga ke aktivitas yang mendukung ekspansi usaha dan rantai pasok.

Program prioritas ikut memberi dorongan

Faisal menilai lonjakan PMDN kemungkinan ikut terdorong program prioritas pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyoroti tingginya aktivitas investasi pada pembangunan dan pengadaan mesin industri.

Menurut Faisal, program seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih diduga ikut memberi dorongan pada investasi domestik. Pengaruh itu, kata dia, tercermin dari tingginya porsi investasi di pembangunan dan mesin.

Dengan realisasi Rp 498,8 triliun hanya dalam tiga bulan pertama, iklim investasi di awal 2026 terlihat tetap kuat. Keseimbangan PMA dan PMDN, ditambah sebaran modal yang makin merata ke luar Jawa, membuat investasi tetap menjadi salah satu penopang utama laju ekonomi nasional.

Berita Terkait