Polestar resmi menghentikan penjualan mobil baru di Amerika Serikat mulai model tahun 2027 setelah pemerintah Presiden Donald Trump menolak izin penjualan berdasarkan Connected Vehicles Rule. Keputusan ini langsung menekan arah bisnis produsen mobil listrik asal Swedia itu di salah satu pasar otomotif paling penting di dunia.
Pemerintah AS menolak otorisasi bagi Polestar untuk menjual mobil baru berdasarkan aturan tersebut. Kebijakan itu melarang impor dan penjualan kendaraan yang memakai teknologi kendaraan terkoneksi dengan kaitan ke China mulai model tahun 2027.
Teknologi konektivitas jadi titik masalah
Aturan yang menjadi dasar penolakan itu mencakup teknologi seperti Bluetooth, Wi-Fi, konektivitas seluler, hingga sejumlah teknologi komunikasi satelit. Washington menilai fitur-fitur tersebut dapat mengumpulkan data sensitif pemilik kendaraan dan berpotensi menimbulkan risiko bagi keamanan nasional.
Langkah ini menunjukkan bahwa pasar otomotif AS kini tidak hanya dipengaruhi tarif dan persaingan dagang. Kontrol atas teknologi kendaraan terkoneksi juga menjadi faktor yang menentukan siapa yang masih bisa menjual mobil di negara itu.
Saham Polestar di Nasdaq langsung jatuh 6,3% pada perdagangan Kamis (25/6) setelah kabar penolakan itu muncul. Respons pasar tersebut memperlihatkan kekhawatiran investor terhadap dampak kebijakan AS terhadap bisnis perusahaan.
Polestar memilih tetap bertahan lewat stok yang ada
Meski penjualan mobil baru dihentikan, Polestar tetap akan menjual stok Polestar 3 dan Polestar 4 yang sudah berada di AS. Perusahaan juga memastikan layanan purnajual tetap berjalan bagi konsumen di negara itu.
Polestar memutuskan tidak mengajukan banding atas penolakan tersebut. Hingga berita ini ditulis, Departemen Perdagangan AS belum memberikan tanggapan atas langkah itu.
Dampaknya pada strategi bisnis Polestar
Polestar sebenarnya sudah memperingatkan sejak 2024 bahwa aturan kendaraan terkoneksi itu pada praktiknya akan melarang perusahaan menjual mobil di Amerika Serikat. Peringatan tersebut juga mencakup kendaraan yang diproduksi di dalam negeri.
Chief Executive Officer Polestar Michael Lohscheller mengatakan strategi perusahaan kini mengikuti dinamika regional industri otomotif. Ia menyebut Eropa menjadi mesin pertumbuhan terbesar perusahaan dan Polestar menyiapkan produksi Polestar 7 di Eropa.
Arah bisnis itu selaras dengan data penjualan perusahaan yang menunjukkan peran AS sangat kecil. Pada kuartal I, hanya 6% penjualan Polestar berasal dari Amerika Serikat, sementara 78% berasal dari Eropa.
Kondisi di pasar AS juga makin berat karena persaingan yang ketat dan perlambatan belanja konsumen. Di saat yang sama, Polestar masih kesulitan mencetak laba dan beberapa kali mendapat suntikan modal dari pemegang saham utama Geely serta Chairman Li Shufu.
Tekanan keuangan itu ikut membuat harga saham Polestar terus tertekan. Perusahaan bahkan melakukan reverse stock split tahun lalu untuk mempertahankan status pencatatannya di Nasdaq, sambil mencari pijakan bisnis yang lebih kuat di luar Amerika Serikat.
Source: www.cnbcindonesia.com






