Presiden RI Prabowo Subianto menyebut Indonesia merugi US$ 908 miliar selama 34 tahun atau sekitar Rp 15 ribu triliun akibat kebocoran ekonomi. Ia menilai arus kekayaan nasional yang terus keluar negeri ikut menekan daya tahan rupiah.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat penutupan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Bangkalan, Jawa Timur. Dalam penjelasannya, persoalan nilai tukar tidak hanya berkaitan dengan pasar, tetapi juga dengan seberapa besar kekayaan negara tetap berputar di dalam negeri.
Aliran dana keluar disebut lebih besar dari yang tinggal
Prabowo menjelaskan bahwa Indonesia sebenarnya mencatat keuntungan perdagangan selama 17 tahun dari total 22 tahun. Data yang ia kutip diolah Dewan Ekonomi Nasional dari PBB, dengan nilai keuntungan disebut mencapai US$ 436 miliar selama 22 tahun.
Namun, menurut dia, keuntungan itu tidak sepenuhnya dinikmati di dalam negeri. Dalam periode yang sama, ia menyebut uang yang keluar dari Indonesia mencapai US$ 343 miliar, sehingga yang tertinggal di dalam negeri hanya sedikit dibandingkan dengan arus dana yang mengalir ke luar.
Data PBB dan dugaan laporan palsu
Prabowo juga menyinggung temuan lain yang menurutnya bersumber dari data PBB, yakni praktik under-invoicing atau laporan palsu. Ia memberi contoh ketika pengusaha melaporkan nilai ekspor lebih kecil dari kondisi sebenarnya.
“Artinya apa, artinya negara rugi,” kata Prabowo saat menjelaskan dampak praktik tersebut. Ia menambahkan bahwa jika seluruh hitungan itu digabung, kerugian Indonesia disebut mencapai US$ 908 miliar selama 34 tahun.
Dampaknya dikaitkan dengan pelemahan rupiah
Dalam pandangan Prabowo, pelemahan rupiah tidak bisa dipisahkan dari kebocoran ekonomi yang berlangsung lama. Ketika kekayaan nasional lebih banyak mengalir ke luar negeri, tekanan terhadap rupiah ikut terasa dan ekonomi nasional kehilangan daya tahan.
Ia menegaskan Indonesia tetap mampu berdiri meski kekayaan terus keluar setiap tahun. Meski begitu, Prabowo memberi sinyal bahwa kondisi tersebut tidak dapat dibiarkan jika ingin menjaga kekuatan ekonomi nasional dan menahan pelemahan nilai tukar.
Gambaran angka yang disampaikan Prabowo
| Uraian | Angka yang disebut |
|---|---|
| Keuntungan perdagangan 22 tahun | US$ 436 miliar |
| Uang yang keluar selama 22 tahun | US$ 343 miliar |
| Kerugian selama 34 tahun | US$ 908 miliar atau sekitar Rp 15 ribu triliun |
Angka-angka itu ia gunakan untuk menggambarkan besarnya kebocoran ekonomi yang menurutnya perlu dibenahi. Sorotan tersebut kembali menempatkan aliran kekayaan nasional sebagai salah satu faktor yang dianggap berkaitan erat dengan stabilitas rupiah.
