Serangan yang menghantam area dekat konvoi logistik UNIFIL di Lebanon selatan membuat dua anggota pasukan penjaga perdamaian asal Malaysia mengalami luka ringan. Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa, Stephane Dujarric, mengatakan kedua personel itu segera dibawa ke pangkalan terdekat untuk mendapatkan perawatan dan kondisi mereka stabil.
Insiden tersebut juga merusak dua kendaraan dalam rombongan. UNIFIL menyatakan akan menyelidiki lebih lanjut sifat serangan itu untuk memastikan detail kejadian yang terjadi di lapangan.
Konvoi melintas di desa Haris
Dujarric menyebut serangan terjadi saat konvoi melintas di desa Haris pada pagi hari. Menurut dia, luka yang dialami dua penjaga perdamaian Malaysia tergolong ringan sehingga tidak menimbulkan kondisi kritis.
Meski mengalami insiden, rombongan logistik tetap bisa kembali ke pangkalan terdekat. Peristiwa ini menunjukkan bahwa pergerakan personel dan kendaraan UNIFIL di wilayah itu masih menghadapi risiko keamanan yang nyata.
Situasi Lebanon selatan masih rapuh
UNIFIL selama ini bertugas menjaga perdamaian di Lebanon selatan, wilayah yang kerap terdampak bentrokan lintas batas. Ketegangan di kawasan itu belum mereda karena masih ada serangan balasan antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Dalam keterangan PBB, insiden terbaru ini kembali menegaskan betapa rentannya operasi penjaga perdamaian saat menjalankan tugas di lapangan. Pengamanan konvoi pun menjadi bagian penting dari operasi UNIFIL di tengah kondisi keamanan yang tidak menentu.
Rangkaian ketegangan yang terus berlanjut
Dujarric mengaitkan situasi tersebut dengan rangkaian konflik yang masih berlangsung di kawasan itu. Ia menyebut bahwa pada 2 Maret, Hezbollah memulai serangan roket dan drone terhadap Israel di tengah perang AS dan Israel melawan Iran.
Israel kemudian melancarkan serangan udara besar-besaran ke target Hezbollah di pinggiran selatan Beirut, Lebanon selatan, dan Lebanon timur. Israel juga memulai operasi darat di bagian selatan negara itu, yang semakin memperburuk kondisi keamanan di perbatasan.
Gencatan senjata belum menghentikan serangan
Pada 16 April, perundingan yang dimediasi Amerika Serikat menghasilkan kesepakatan gencatan senjata. Namun, serangan harian dari Israel terhadap puluhan permukiman di Lebanon selatan tetap berlangsung, sementara Hezbollah membalas dengan serangan ke pasukan Israel.
Situasi itu membuat Lebanon selatan tetap berada dalam status rawan meski ada kesepakatan jeda tembak. Insiden terhadap pasukan UNIFIL menjadi pengingat bahwa ancaman di lapangan belum sepenuhnya reda.
