Pembangunan Sekolah Rakyat di Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulonprogo, kini baru mencapai 38 persen. Meski begitu, proyek yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juni 2026 itu terus dipacu karena menjadi satu-satunya Sekolah Rakyat tahap kedua di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Untuk mengejar jadwal tersebut, pekerjaan di lapangan dibuat lebih padat dan melibatkan banyak tenaga kerja. Kepala Satker Pelaksanaan Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum, Haryo Satriyawan, menyebut seluruh 26 bangunan di kawasan itu sudah mulai naik dan pengerjaan terus dikejar agar tidak tertinggal dari target nasional.
Kawasan pendidikan ini dibangun di atas lahan sekitar 7,1 hektare. Rancangannya tidak hanya menempatkan ruang belajar, tetapi juga menghadirkan lingkungan terpadu untuk jenjang SD, SMP, dan SMA dalam satu area.
Konsep itu membuat Sekolah Rakyat Kulonprogo dirancang sebagai kawasan tempat siswa belajar sekaligus tinggal. Di dalamnya akan tersedia ruang kelas, asrama, gedung olahraga, kantin, dan fasilitas pendukung lain agar kegiatan pendidikan berlangsung dalam satu lingkungan yang saling terhubung.
Dalam peninjauan langsung ke lokasi, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono melihat pekerjaan utama telah masuk tahap pondasi dan struktur bangunan. Peninjauan itu menjadi bagian dari pemantauan terhadap proyek yang dikejar penyelesaiannya sesuai jadwal operasional.
Di sisi progres, capaian fisik pembangunan masih berada di bawah target dengan deviasi sekitar 4,3 persen. Kondisi itu membuat percepatan harus dilakukan agar rangkaian pekerjaan bisa kembali mengejar ritme yang dibutuhkan.
Salah satu cara yang ditempuh adalah menambah kekuatan tenaga kerja di lapangan. Saat ini pekerjaan melibatkan 840 tenaga kerja, dan pelaksana proyek berencana menambah 295 pekerja lagi agar beberapa bagian bangunan bisa dikerjakan secara bersamaan.
Haryo menjelaskan bahwa naik-turunnya jumlah pekerja ikut memengaruhi deviasi progres pembangunan. Karena itu, penambahan tenaga kerja dipandang penting untuk menutup keterlambatan dan menjaga ritme pekerjaan tetap stabil.
Bila tambahan tersebut terealisasi, jumlah pekerja di lokasi diharapkan mendekati 1.000 orang. Langkah ini dinilai penting karena skala pekerjaan masih besar, terutama di lahan seluas 7,1 hektare yang harus menampung banyak bangunan dan fasilitas pendukung.
Sekolah Rakyat Kulonprogo sendiri disiapkan untuk menampung hingga 1.200 orang, termasuk siswa dan tenaga pendidik. Kapasitas itu memperlihatkan bahwa proyek ini bukan sekadar sekolah biasa, melainkan kawasan hunian pendidikan dengan sistem yang terintegrasi.
Pemerintah menyiapkan 26 bangunan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar sekaligus kebutuhan tinggal di asrama. Seluruh fasilitas tersebut diarahkan agar proses pendidikan bisa berjalan lebih efisien dalam satu kawasan yang terhubung dan siap digunakan sesuai target yang sudah ditetapkan.
Source: www.beritasatu.com