Washington masih menanti sinyal dari Tehran setelah proposal negosiasi baru dikirim dan disebut membawa syarat yang lebih ketat dari tawaran sebelumnya. Gedung Putih berharap arah pembicaraan itu sudah mulai terlihat menjelang akhir pekan depan, di tengah tekanan diplomatik dan keamanan yang belum mereda.
Menurut Axios, pemerintah Donald Trump sudah menyampaikan proposal tersebut ke pihak Iran dan kini menunggu tanggapan yang diperkirakan datang dalam waktu sekitar tiga hari. Seorang pejabat senior Gedung Putih yang dikutip media itu menyebut Washington tetap memberi ruang bagi proses ini, meski waktu untuk mencapai kepastian terus menyusut.
Pejabat tersebut mengatakan peluang kesepakatan belum tertutup. Ia menyampaikan bahwa hasil yang diinginkan Trump masih mungkin dicapai dalam waktu dekat, meski jadwal pastinya belum bisa dipastikan.
“Bisa dalam waktu seminggu. Bisa kurang. Bisa juga lebih lama. Menjelang pergantian pekan, kami berharap sudah ada sesuatu,” kata pejabat itu kepada Axios.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Washington sedang mendorong kejelasan secepat mungkin. Di sisi lain, proposal baru justru membuat negosiasi berada pada titik yang lebih sensitif karena isi tawaran itu disebut lebih ketat daripada sebelumnya.
The New York Times pada Minggu melaporkan bahwa dokumen proposal tersebut telah dikirim kepada Iran. Axios menambahkan bahwa tanggapan dari Teheran diharapkan segera masuk agar arah pembicaraan berikutnya bisa ditentukan tanpa menunggu terlalu lama.
Meski begitu, detail proposal belum sepenuhnya disepakati semua pihak. Kondisi ini membuat pembicaraan masih bergerak di antara harapan lahirnya terobosan dan risiko kembali tersendat.
Latar di balik proses negosiasi juga tidak ringan. Hubungan antara AS, Israel, dan Iran masih dibayangi ketegangan militer dan diplomatik setelah serangkaian insiden yang memicu eskalasi.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran. Serangan itu menimbulkan kerusakan dan korban sipil, lalu diikuti langkah gencatan senjata selama dua pekan yang diumumkan Washington dan Teheran pada 7 April.
Namun, perundingan lanjutan di Islamabad tidak menghasilkan kesepakatan. Setelah itu, AS mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menambah tekanan di tengah upaya mencari jalur pembicaraan baru.
Di saat kebuntuan belum benar-benar terurai, Trump tetap membuka ruang dialog dengan memperpanjang penghentian permusuhan agar Iran punya waktu menyusun proposal perdamaian. Langkah itu menjadi penanda bahwa jalur diplomasi masih dipertahankan meski tensi politik dan keamanan tetap tinggi.
Karena itu, perhatian utama Washington kini tertuju pada jawaban Iran atas proposal baru tersebut. Jika respons Tehran sejalan dengan harapan, akhir pekan depan bisa menjadi momen penentu bagi arah pembicaraan lanjutan dalam upaya meredakan konflik yang belum selesai.
