Di Umbul Jumprit, air yang diambil untuk Waisak tidak hanya diperlakukan sebagai bagian dari upacara. Bagi umat Buddha, air dari lereng Gunung Sindoro itu membawa makna kejernihan dan kesucian batin yang menyertai perayaan Tri Suci Waisak.
Prosesi pengambilan air berkah di mata air suci Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, kembali menjadi perhatian saat rangkaian Waisak Nasional berlangsung. Kegiatan ini digelar oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia atau Walubi dan diikuti ratusan peserta dari berbagai unsur umat Buddha.
Ritual yang dijaga dalam tradisi Waisak
Sebelum air diambil, para peserta lebih dulu menjalankan ritual dan doa bersama sesuai tradisi masing-masing majelis. Setelah itu, puluhan biksu berjalan kaki menuju sumber mata air sambil membawa kendi.
Pengambilan air dilakukan dengan gayung dan dimasukkan ke dalam kendi secara bergantian oleh perwakilan masing-masing majelis. Susunan prosesi itu menunjukkan bahwa kegiatan di Umbul Jumprit tidak berdiri sebagai seremoni biasa, melainkan sebagai laku spiritual yang dijaga dalam Waisak.
Sekitar 100 anggota Sangha dari 15 majelis Buddha yang tergabung dalam Walubi ikut hadir dalam prosesi tersebut. Kehadiran mereka memperlihatkan keterlibatan lintas majelis dalam satu rangkaian ibadah yang sama.
Makna air berkah bagi umat Buddha
Ketua Umum Mahabudhi, Biksu Samanta Kusala Mahasthavira, menyebut prosesi ini sebagai salah satu rangkaian terbesar dalam Tri Suci Waisak. Ia menegaskan bahwa air berkah memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar air untuk ritual.
Menurut Samanta, air itu melambangkan kejernihan, kebeningan, dan kesucian batin. Ia juga menekankan pentingnya menjaga pikiran tetap jernih agar dapat memancarkan cinta kasih universal dan memberi dampak baik bagi seluruh makhluk hidup.
Karena itu, Umbul Jumprit dipandang bukan hanya sebagai lokasi pengambilan air. Tempat ini juga menjadi ruang simbolik yang menghubungkan alam, ritual, dan nilai-nilai spiritual dalam perayaan Waisak.
Dibawa ke Mendut lalu menuju Borobudur
Setelah diambil, air berkah dibawa ke Candi Mendut di Kabupaten Magelang untuk disemayamkan dan disakralkan. Dari sana, air akan diarak secara karnaval menuju altar utama di Candi Borobudur sebagai bagian dari puncak perayaan Waisak.
Tradisi ini telah lama menjadi bagian penting dari Waisak Nasional setiap tahun. Air dari Umbul Jumprit selalu dipandang sebagai unsur utama yang mengiringi umat Buddha menuju puncak peringatan di Borobudur.
Rangkaian itu juga menegaskan hubungan antara kesakralan alam dan perayaan keagamaan yang terus dijaga turun-temurun. Dalam konteks Waisak, mata air suci di Temanggung menjadi pengingat bahwa kesucian batin dipandang sejalan dengan kesucian sumber air yang digunakan dalam upacara.
Source: www.beritasatu.com