Minat terhadap Switch 2 masih terlihat kuat di Jepang, tetapi pasar justru membaca sinyal yang berbeda dari arah bisnis Nintendo. Saham perusahaan itu merosot 10 persen di bursa Tokyo pada Senin, 11 Mei 2026, setelah proyeksi penjualan perangkat dan software dinilai lebih lemah dari perkiraan.
Reaksi itu membuat penurunan saham Nintendo menjadi yang terdalam dalam tiga bulan terakhir. Investor tampaknya tidak hanya menilai angka penjualan yang hati-hati, tetapi juga mempertanyakan seberapa tahan dorongan pertumbuhan Nintendo dalam waktu dekat.
Proyeksi yang membuat pasar waspada
Nintendo memperkirakan penjualan Switch 2 hanya 16,5 juta unit pada tahun fiskal ini. Perusahaan juga menargetkan distribusi software sebanyak 60 juta kopi, angka yang memberi kesan bahwa momentum awal perangkat baru tersebut mulai melambat dibandingkan fase awal Switch generasi sebelumnya.
Panduan itu langsung memicu keraguan mengenai kekuatan mesin pertumbuhan utama Nintendo. Sentimen pasar pun bergeser dari optimisme terhadap konsol baru menjadi pertanyaan tentang kemampuan perusahaan menjaga permintaan tetap tinggi.
Bagi banyak investor, software tetap menjadi bagian penting dari cerita laba Nintendo. Karena itu, proyeksi distribusi yang terlihat lemah ikut menambah kekhawatiran atas daya tarik franchise perusahaan.
Tekanan biaya ikut memperberat sentimen
Di sisi lain, masalah Nintendo tidak berhenti pada sisi penjualan. Perusahaan juga menghadapi tekanan dari melemahnya permintaan serta naiknya biaya komponen, terutama ketika margin laba dinilai makin tergerus oleh lonjakan harga chip memori.
Nintendo memperkirakan dampak gabungan dari lonjakan harga memori dan tarif Amerika Serikat mencapai 100 miliar yen atau sekitar Rp11,14 triliun sepanjang tahun berjalan. Selain chip memori, tarif pengiriman yang tinggi juga ikut menambah beban operasional perusahaan.
Untuk meredam tekanan itu, Nintendo menyiapkan kenaikan harga secara menyeluruh. Kenaikan tersebut mencakup perangkat Switch 2, layanan langganan daring, dan kartu permainan, meski langkah itu belum cukup untuk menghapus kekhawatiran pasar terhadap margin laba.
Fokus investor bergeser ke game andalan
Sesudah reaksi awal atas proyeksi perangkat, perhatian pasar mulai bergerak ke judul-judul game baru yang akan menopang penjualan. Sejumlah analis menilai keberhasilan Nintendo ke depan sangat bergantung pada jadwal rilis game pihak pertama.
Robin Zhu dari Bernstein menyoroti pentingnya momentum pameran industri dalam waktu dekat. Menurutnya, investor ingin melihat apa yang bisa dibawa musim pameran musim panas untuk memperkuat kepercayaan pasar.
Amir Anvarzadeh dari Asymmetric Advisors juga menilai kekhawatiran investor tidak berhenti pada biaya hardware. Ia melihat pelemahan penjualan software sebagai sinyal yang bisa mencerminkan menurunnya daya tarik franchise perusahaan.
Saham masih terkoreksi tajam sejak awal tahun
Tekanan terbaru itu datang ketika saham Nintendo sudah terkoreksi lebih dari 30 persen sejak awal tahun 2026. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih belum yakin pemulihan perusahaan akan berjalan mulus dalam waktu dekat.
Di Jepang, minat konsumen terhadap produk baru Nintendo sebenarnya masih tampak kuat. Antrean panjang muncul di berbagai toko elektronik, sementara stok fisik dan daring habis cepat selama akhir pekan.
Namun, antusiasme konsumen belum sepenuhnya menghapus keraguan investor. Kazunori Ito dari Morningstar menyebut proyeksi penurunan penjualan software terasa membingungkan, terutama karena tahun kedua konsol biasanya menjadi fase penting untuk meningkatkan aktivitas pengguna.
Di tengah tekanan Nintendo, pergerakan saham pesaing justru tampak berlawanan. Sony Group Corp. naik 10 persen setelah mengumumkan program pembelian kembali saham, mengamankan pasokan memori untuk PlayStation 5, dan menjalin kemitraan dengan TSMC untuk menahan biaya modal.







