PSG mengunci gelar Liga Champions kedua mereka lewat adu penalti yang menegangkan, dan Luis Enrique menilai kemenangan itu terasa lebih istimewa justru karena jalannya final jauh dari mudah. Di Puskas Arena, Budapest, PSG menundukkan Arsenal 4-3 setelah laga berakhir 1-1 hingga perpanjangan waktu.
Bagi Luis Enrique, nilai trofi kali ini lahir dari beratnya ujian yang harus dilewati timnya. Ia menegaskan PSG pantas menjadi juara karena mampu menjaga konsistensi sepanjang musim yang menuntut, sementara final sendiri sudah terasa sulit bahkan sebelum bola ditendang.
Arsenal membuat PSG kesulitan sejak awal
Pertandingan berjalan dalam tempo yang tidak ramah bagi PSG. Arsenal tampil disiplin dan rapat sejak menit awal, sehingga tim asal Paris itu sulit menemukan ruang bersih untuk menyerang pada babak pertama.
Situasi PSG makin rumit ketika Kai Havertz membawa Arsenal unggul cepat pada menit keenam. Setelah memimpin, Arsenal memilih bertahan lebih dalam dan menunggu peluang untuk melancarkan serangan balik.
Meski penguasaan bola tetap berada di tangan PSG, mereka tidak leluasa membongkar pertahanan lawan. Opta mencatat Arsenal hanya menguasai bola 24,7 persen sepanjang laga, angka terendah dalam final Liga Champions sejak pencatatan modern dimulai pada 2004.
Titik balik datang setelah jeda
PSG baru menemukan jalan kembali ke pertandingan pada menit ke-65. Khvicha Kvaratskhelia dijatuhkan Cristhian Mosquera di kotak penalti, lalu Ousmane Dembélé menyamakan skor lewat eksekusi mendatar ke sisi kiri gawang.
Gol itu mengubah suasana pertandingan dan memberi dorongan besar bagi PSG. Setelah skor kembali imbang, mereka terus menekan agar laga tidak berlanjut ke adu penalti.
Tekanan PSG sempat hampir berbuah gol pada menit ke-77 ketika tembakan Kvaratskhelia menghantam tiang. Bradley Barcola juga mendapat peluang penting di penghujung waktu normal, tetapi bola melenceng.
Penalti menentukan nasib dua tim
Ketika laga harus diputuskan lewat adu penalti, ketegangan meningkat tajam. Eberechi Eze gagal untuk Arsenal, namun David Raya sempat menjaga asa tim London Utara itu dengan menepis tendangan Nuno Mendes.
Momentum kemudian kembali berpihak kepada PSG setelah Lucas Beraldo sukses menjalankan tugasnya dari titik putih. Arsenal lalu diwajibkan mencetak gol melalui Gabriel Magalhaes agar tetap hidup, tetapi tembakannya melambung di atas mistar dan memastikan PSG keluar sebagai juara.
Marquinhos menilai mempertahankan gelar memang jauh lebih sulit daripada merebutnya. Ia mengatakan para pemain sudah diingatkan sejak awal musim bahwa menjaga mahkota juara selalu lebih berat.
Trofi yang menegaskan status PSG di Eropa
Kemenangan ini menjadi gelar Liga Champions ketiga bagi Luis Enrique sebagai pelatih. Pencapaian itu menempatkannya sejajar dengan Carlo Ancelotti, Bob Paisley, Zinedine Zidane, dan Pep Guardiola yang sama-sama sudah mengangkat sedikitnya tiga trofi Piala Eropa.
PSG juga mendapat sorotan karena keberhasilan ini memperkuat pandangan bahwa mereka bisa menjadi kekuatan baru di Eropa. Di final, rata-rata usia pemain inti PSG bahkan belum mencapai 24 tahun.
Désiré Doué menegaskan skuad PSG belum puas meski berhasil mempertahankan gelar. Ia menyebut tim akan menikmati momen ini terlebih dahulu sebelum kembali bekerja untuk mengejar lebih banyak trofi.
Arsenal tetap pulang dengan pengakuan
Di kubu lawan, Mikel Arteta mengakui kekalahan ini terasa menyakitkan. Meski begitu, ia meminta para pemainnya menjadikan pengalaman di Budapest sebagai bahan bakar untuk berkembang.
Arteta juga memberi pujian kepada PSG dan menyebut mereka sebagai tim terbaik di dunia. Bagi Arsenal, hasil ini memperpanjang penantian mereka terhadap trofi Liga Champions.
Klub asal London itu kini sudah memainkan 226 pertandingan di Piala Eropa dan Liga Champions tanpa pernah menjadi juara, jumlah terbanyak di antara tim yang belum mengangkat trofi tersebut. Selepas kemenangan dipastikan, PSG merayakan gelar dengan hujan konfeti emas dan kembang api di stadion, sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron ikut memberi selamat dan menyebut ada “bintang baru” yang bersinar di atas Paris.
Source: www.beritasatu.com