Puasa Arafah Jangan Dilewatkan, Tuan Guru Madyan Sebut Awal Zulhijah Penuh Keutamaan

Author: Redaksi Android62

Puasa Arafah pada 9 Zulhijah kembali ditekankan Tuan Guru Haji Madyan Noor Mar’ie sebagai amalan yang jangan sampai terlewat. Di hadapan jamaah Masjid Assa’adah Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, ia mengingatkan bahwa awal Zulhijah adalah masa ibadah yang penuh nilai dan sayang jika hanya dilewati sebagai penanda menuju Idul Adha.

Dalam tausyiah itu, Tuan Guru Madyan menempatkan sepuluh hari pertama Zulhijah sebagai periode yang patut dimanfaatkan sebaik mungkin. Ia menyebut ada zikir dan puasa pada hari-hari tertentu yang memiliki keutamaan besar bagi umat Islam.

Salah satu amalan yang ia sorot adalah bacaan “Laa ilaha illallah” pada 1 Zulhijah. Tuan Guru Madyan menjelaskan bahwa satu kali zikir itu disebut lebih berat timbangannya daripada tujuh lapis bumi dan langit.

Penekanan tersebut membuat kalimat tauhid tampil sebagai amalan pembuka yang sangat tinggi nilainya. Ia menegaskan bahwa zikir bukan sekadar bacaan lisan, melainkan ibadah yang memiliki bobot besar dalam timbangan kebaikan.

Selain zikir, ia juga memaparkan keutamaan puasa pada 4 Zulhijah. Menurut Tuan Guru Madyan, puasa pada hari itu disebut dapat menjauhkan seseorang dari sifat munafik dan dari rasa fakir.

Ia menambahkan, orang munafik diibaratkan sebagai kerak neraka. Keterangan itu ia kaitkan dengan hadits Rasulullah Muhammad SAW sebagai penguat pesan tentang pentingnya menjaga kualitas iman.

Pada hari kelima Zulhijah, ia menyebut puasa membawa keutamaan lain. Orang yang melaksanakannya disebut dibebaskan dari azab neraka dan kelak berada di surga bersama auli Allah.

Tuan Guru Madyan kemudian mengarahkan perhatian jamaah pada 9 Zulhijah, yaitu puasa Arafah. Ia meminta kaum Muslim, khususnya jamaah Masjid Assa’adah, agar tidak melewatkan amalan tersebut.

Peringatan itu menunjukkan bahwa rangkaian amalan awal Zulhijah tidak berhenti pada zikir di hari pertama atau puasa pada hari-hari tertentu saja. Menurutnya, Arafah tetap menjadi momen penting yang layak dijaga oleh umat Islam.

Tausyiah tersebut juga menegaskan kembali latar belakang keilmuan Tuan Guru Madyan. Ia dikenal sebagai ulama asal Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, yang lama menimba ilmu di Mekkah-Madinah, Arab Saudi, dan merupakan alumnus Universitas Islam Madinah.

Riwayat kiprahnya mencatat bahwa ia pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Qari dan Qariah DKI Jakarta. Dalam garis keluarga, ia adalah keponakan almarhum KH Idham Chalid, mantan Wakil Perdana Menteri pada masa Presiden Soekarno.

Dengan penjelasan itu, awal Zulhijah ditempatkan sebagai waktu yang padat makna untuk memperbanyak ibadah. Zikir, puasa, dan puasa Arafah menjadi amalan yang menurut Tuan Guru Madyan layak dimanfaatkan secara sungguh-sungguh.

Source: kalsel.antaranews.com
Berita Terbaru