Pupuk Hayati Cair Lampung Dorong Kopi Berbuah Lebih Cepat, Ini Hasil Ujinya

Author: Redaksi Android62

Hasil awal uji Pupuk Hayati Cair di Kebun Induk Hanakau menunjukkan kopi dapat berbuah lebih cepat, dari yang umumnya baru dipanen setelah 3 tahun menjadi sekitar 1,5 hingga 2 tahun. Temuan ini menjadi perhatian karena menawarkan cara baru untuk meningkatkan produktivitas kopi tanpa bergantung penuh pada pupuk kimia.

Uji coba tersebut dilakukan di lahan percontohan seluas 2 hektare sejak 2025. Dari pengamatan awal, tanaman yang mendapat Pupuk Hayati Cair tumbuh lebih optimal dibanding tanaman yang tidak menggunakannya.

Pupuk berbasis bahan lokal

Pupuk Hayati Cair atau PHC merupakan pupuk organik berbasis mikroorganisme lokal. Bahan pembuatannya berasal dari limbah kelapa, limbah kedelai, dan air cucian beras yang diolah menjadi pupuk ramah lingkungan.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut PHC dapat membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman, membuat daun lebih hijau, mempercepat pembungaan, memperbesar ukuran buah, serta memperbaiki kesuburan tanah. Dengan begitu, ketergantungan pada pupuk kimia bisa dikurangi.

Perubahan yang terlihat di kebun percontohan

Di Kebun Induk Hanakau milik UPTD Balai Benih dan Kebun Induk Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, PHC diperkenalkan sebagai inovasi untuk mengangkat produktivitas kopi. Hasil awal di lapangan disebut cukup signifikan dan memberi harapan bagi pengembangan budidaya kopi yang lebih ramah lingkungan.

Aspek Keterangan Detail Penting
Penerapan PHC Lahan percontohan 2 hektare
Efek pada kopi Percepatan produksi Berbuah pada usia 1,5 hingga 2 tahun
Produksi normal Tanpa PHC Umumnya baru panen setelah 3 tahun

Rahmat Mirzani Djausal mengatakan buah kopi terlihat lebih besar dan kualitasnya lebih baik. Dalam keterangan tertulis yang dikutip news.detik.com pada Senin (13/7/2026), ia juga menyebut pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal.

Dukungan untuk petani Lampung Barat

Dalam kunjungan ke Kebun Induk Hanakau, Rahmat Mirzani Djausal didampingi Wakil Bupati Lampung Barat Mad Hasnurin beserta jajaran Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Rombongan meninjau kebun kopi yang menjadi pusat percontohan, penelitian, sekaligus pengembangan benih kopi unggul di Lampung.

Gubernur juga menyerahkan sampel PHC dalam kemasan botol agar bisa diuji langsung oleh petani di lahan masing-masing. Langkah ini diharapkan membuat inovasi tersebut lebih mudah dipraktikkan di lapangan.

Mad Hasnurin menyampaikan apresiasi atas perhatian Gubernur terhadap pengembangan kopi di Lampung Barat. Ia menilai kehadiran gubernur menjadi motivasi bagi petani dan menunjukkan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam meningkatkan kualitas serta produktivitas kopi.

“Kami berharap program ini dapat terus dikembangkan sehingga kesejahteraan petani kopi semakin meningkat dan kopi Lampung Barat semakin berdaya saing,” ujarnya.

Sentra kopi dengan klon unggul dan lokal potensial

Kebun Induk Hanakau menjadi salah satu sentra pengembangan kopi yang menerapkan budidaya modern dan teknik perawatan tanaman untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas panen. Di lokasi itu dikembangkan kopi robusta dan arabika dengan sejumlah klon unggul nasional maupun klon lokal potensial.

Jenis Kopi Contoh Klon/Status Keterangan
Robusta BP 939, BP 936, BP 534, BP 436 Klon unggul nasional sebagai sumber benih berkualitas
Robusta Kopi Bagio, Turun Ujung, Bodong, Tugu Sari Klon lokal potensial yang dipersiapkan menjadi varietas unggul bersertifikat
Arabika Sekitar 200 batang Ditanam sebagai uji adaptasi di dataran tinggi Sukau

Dengan hasil awal yang menjanjikan, PHC menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi Lampung untuk memperkuat daya saing sektor perkebunan. Fokusnya adalah mendorong kopi tumbuh lebih cepat, panen lebih baik, dan budidaya tetap ramah lingkungan.

Source: news.detik.com
Berita Terbaru