Pemerintah menargetkan 136 juta masyarakat mengikuti skrining kanker tahun ini melalui program cek kesehatan gratis. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari capaian tahun lalu yang berada di kisaran 70 juta peserta.
Fokus utama kebijakan ini bergeser ke deteksi dini, karena sebagian besar pasien kanker di Indonesia masih terdiagnosis saat penyakit sudah memasuki stadium tiga atau stadium empat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa peluang sembuh jauh lebih besar jika kanker ditemukan sejak stadium satu.
Pemerataan Alat Pemeriksaan Dipercepat
Untuk mengejar target tersebut, Kementerian Kesehatan menyiapkan pemerataan fasilitas diagnostik di berbagai daerah. Pemerintah menempatkan alat ultrasonografi atau USG di sekitar 10.000 puskesmas guna membantu deteksi dini kanker payudara.
Selain itu, pemerintah menambah 361 unit mamografi yang tersebar di 514 kabupaten/kota. Layanan CT scan juga dilengkapi di seluruh kabupaten/kota di Indonesia agar pemeriksaan bisa berlangsung lebih cepat dan merata.
| Langkah Pemerintah | Jumlah | Tujuan |
|---|---|---|
| Peserta skrining kanker tahun ini | 136 juta orang | Perluasan deteksi dini lewat cek kesehatan gratis |
| Peserta tahun lalu | Sekitar 70 juta orang | Perbandingan capaian program |
| USG di puskesmas | Sekitar 10.000 puskesmas | Deteksi dini kanker payudara |
| Mamografi | 361 unit di 514 kabupaten/kota | Mendukung pemeriksaan kanker |
| CT scan | Seluruh kabupaten/kota | Melengkapi layanan diagnostik |
Budi menyampaikan hal itu seusai menghadiri Indonesia-China Cancer Forum 2026 di kawasan Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Minggu (12/7/2026). Ia menekankan bahwa strategi utama penanganan kanker adalah deteksi dini dan pengobatan cepat.
Dalam forum tersebut, Budi juga mengajak masyarakat, terutama yang berusia 40 tahun ke atas dan memiliki faktor risiko kanker, untuk memanfaatkan program cek kesehatan gratis. Menurut dia, layanan itu menjadi salah satu instrumen utama pemerintah untuk memperluas akses skrining ke masyarakat luas.
Penguatan Tenaga Onkologi
Penguatan layanan tidak hanya menyasar alat pemeriksaan, tetapi juga sumber daya manusia kesehatan. Ketua Konsil Kesehatan Indonesia, drg Arianti Anaya, menilai percepatan pemenuhan tenaga kesehatan menjadi langkah penting, khususnya di bidang onkologi.
Arianti menyebut peningkatan kompetensi dilakukan melalui program fellowship dan advanced clinical training. Skema itu dinilai bisa memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan spesialis penanganan kanker lebih cepat dibanding jalur pendidikan akademik konvensional.
“Kami mendukung upaya Kemenkes dalam mempercepat pemenuhan sumber daya manusia kesehatan sekaligus meningkatkan kompetensinya. Dengan program fellowship dan advanced clinical training, kebutuhan tenaga kesehatan, khususnya di bidang penanganan kanker, dapat dipenuhi lebih cepat,” ujarnya.
Budi juga menegaskan bahwa pengendalian kanker bukan hanya persoalan nasional, melainkan tantangan global. Karena itu, pemerintah terus memperkuat kerja sama internasional untuk mengembangkan teknologi kesehatan dan meningkatkan kapasitas tenaga medis.
Dengan perluasan skrining, pemerataan alat diagnostik, dan penguatan kompetensi tenaga medis, pemerintah berharap angka kesembuhan pasien kanker bisa meningkat. Pada saat yang sama, angka kematian akibat kanker di Indonesia diharapkan terus turun seiring deteksi yang lebih dini dan penanganan yang lebih cepat.
