Biaya RAM dan penyimpanan kini menjadi komponen paling mahal dalam pembuatan smartphone, bahkan melampaui chipset. Kondisi ini membuat harga ponsel berpotensi makin sulit turun, sementara ruang diskon besar yang selama ini dinanti pembeli ikut menyempit.
CEO Nothing, Carl Pei, menyampaikan bahwa RAM dan storage sekarang bisa menyumbang lebih dari separuh total bill of materials sebuah ponsel. Dengan porsi sebesar itu, biaya memori berubah menjadi penentu utama harga perangkat, bukan lagi prosesor seperti yang selama ini kerap diasumsikan banyak orang.
Tekanan Pasokan Membuat Biaya Makin Berat
Pei mengatakan pemasok sedang berada dalam tekanan, sehingga produsen tidak lagi leluasa memesan komponen sesuai kebutuhan. Dalam situasi seperti ini, kuota yang terbatas memaksa merek ponsel membayar harga premium untuk pasokan yang tersedia.
Dampaknya langsung terasa pada biaya produksi sebelum perangkat sampai ke tangan konsumen. Menurut Pei, sejak Februari banyak ponsel baru meluncur dengan harga sekitar $100 lebih mahal dibanding pendahulunya.
Pei juga mengungkap bahwa untuk Nothing Phone (4a), biaya memori naik dua kali lipat sejak produk itu diputuskan untuk dibuat hingga akhirnya meluncur. Setelah perangkat itu masuk pasar, harga komponen memorinya kembali naik dua kali lipat.
Segmen Budget dan Menengah Paling Tertekan
Kenaikan biaya memori paling berat terasa di kelas budget dan menengah. Di segmen ini, margin produsen umumnya lebih tipis, sehingga lonjakan biaya komponen lebih cepat mendorong kenaikan harga jual akhir.
Namun tekanan tersebut tidak berhenti di sana. Beberapa perangkat premium juga disebut ikut mengalami penyesuaian harga akibat beban biaya yang sama.
Nothing sendiri sudah merasakan dampaknya secara langsung dengan menaikkan harga Nothing Phone (4a) dan Phone (4a) Pro di semua varian tidak lama setelah peluncurannya pada Maret. Langkah itu menunjukkan bahwa produsen kini harus lebih hati-hati menyusun strategi harga dan konfigurasi perangkat.
Kenaikan DRAM Mengikuti Ledakan AI
Pengamat industri menilai lonjakan harga DRAM pada 2026 ikut memperburuk keadaan. Permintaan dari ledakan AI disebut mendorong kenaikan ongkos pembuatan smartphone sekitar 10% hingga 30% atau lebih, tergantung modelnya.
Itulah sebabnya banyak merek kini menghadapi tantangan yang sama saat menyusun harga produk baru. Samsung, Xiaomi, Google, dan Nothing disebut sama-sama harus berhadapan dengan biaya komponen yang lebih tinggi dan pasokan yang lebih ketat.
Situasi ini juga berpengaruh pada pola promosi yang biasa dinanti konsumen. Jika harga dasar perangkat terus naik dan margin makin sempit, diskon agresif saat musim promo bisa semakin jarang ditemukan.
Pei bahkan menyampaikan saran yang terdengar lugas bagi mereka yang sedang mempertimbangkan untuk mengganti ponsel. Menurutnya, waktu terbaik adalah kemarin, dan waktu terbaik kedua adalah sekarang.
Pernyataan itu menggambarkan kekhawatiran bahwa menunda pembelian justru bisa membuat konsumen membayar lebih mahal di kemudian hari. Di saat yang sama, peluang mendapatkan penawaran yang jauh lebih menarik juga bisa berkurang.
Tekanan harga memori tampaknya tidak hanya berhenti di pasar smartphone. Sebuah Lenovo ThinkBook 16 dengan AMD Ryzen 5 7535HS dilaporkan terlihat dibanderol hampir dua kali lipat dibanding Januari 2026, menandakan efek biaya dan pasokan ikut merembet ke perangkat lain.
Dengan kondisi seperti ini, arah harga perangkat seluler tampak makin sulit diprediksi. Saat RAM dan storage menjadi komponen termahal, konsumen kemungkinan perlu menyesuaikan ekspektasi terhadap harga jual dan diskon besar dalam waktu dekat.
Source: www.gizmochina.com






