Ratusan Miliar Dari Kuliner, Burger Lokal Diposisikan Jadi Wajah Baru Ekraf Ke Pasar Global

Festival Burger Dunia menjadi panggung baru bagi kuliner lokal untuk menunjukkan bahwa burger bisa naik kelas tanpa kehilangan identitasnya. Di balik ajang yang digelar di Chillax Sudirman, Jakarta, pemerintah melihat peluang yang lebih besar: menjadikan burger lokal sebagai pintu masuk menuju pasar yang lebih luas, termasuk pasar global.

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menempatkan festival ini sebagai ruang promosi sekaligus ruang kolaborasi. Dengan pendekatan itu, kuliner tidak lagi dipandang hanya sebagai sajian di meja makan, tetapi sebagai bagian dari strategi ekonomi kreatif yang mampu mendorong daya saing produk Indonesia.

Identitas lokal jadi pembeda

Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya hadir dalam pembukaan acara yang digagas Aldi Taher tersebut. Kehadirannya menegaskan bahwa produk kuliner kini diposisikan sebagai sektor yang punya peran ekonomi, bukan sekadar hiburan acara.

Teuku Riefky menyoroti pentingnya identitas lokal dalam menghadapi persaingan yang makin ketat. Menurutnya, festival kuliner bisa menjadi ruang kolaborasi IP agar burger dan produk kuliner lain tampil dengan sentuhan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Ia juga menekankan bahwa produk lokal perlu punya karakter yang jelas. Karena itu, burger lokal diharapkan tidak hanya enak, tetapi juga memiliki pembeda yang membuatnya tampil kuat di tengah banyaknya pilihan serupa.

Kuliner sebagai mesin ekonomi kreatif

Sorotan terhadap burger lokal juga tidak lepas dari besarnya peran subsektor kuliner dalam ekonomi kreatif Indonesia. Data yang disampaikan menunjukkan kontribusi subsektor ini mencapai 40,27 persen atau hampir Rp648 triliun.

Selain itu, sektor kuliner mencatat capaian investasi dan ekspor yang signifikan. Subsector ini juga menyerap 15,58 juta pekerja, sehingga menjadi salah satu penopang penting penciptaan lapangan kerja nasional.

Lebih dari 57 persen tenaga kerja di sektor tersebut berasal dari generasi muda berusia di bawah 42 tahun. Kondisi itu membuat kuliner dipandang sebagai sektor yang dekat dengan energi kreatif anak muda sekaligus penting untuk penguatan ekosistem ekonomi kreatif.

Ruang bertemu bagi brand besar dan UMKM

Festival Burger Dunia dirancang dengan pendekatan komunitas dan kolaborasi lintas jenama. Di dalamnya hadir berbagai IP burger dengan karakter dan pasar yang berbeda, sehingga memperlihatkan bahwa industri kuliner bisa tumbuh lewat ragam kreativitas.

Aldi Taher menyebut burger sebagai makanan yang mudah diterima berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga keluarga. Karena itu, festival ini diarahkan menjadi ruang bersama bagi brand besar, UMKM, dan pedagang kecil agar bisa maju dalam satu ekosistem.

Pendekatan tersebut membuat festival tidak hanya berhenti pada perayaan makanan. Acara ini juga menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku usaha kuliner dari skala yang berbeda dalam satu panggung yang sama.

Dukungan digital untuk pelaku lokal

Penyelenggaraan festival turut mendapat dukungan Grab Indonesia melalui Grab Puas Food Market. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperluas visibilitas pelaku usaha kuliner lokal sekaligus membuka akses ke ekosistem digital.

Melinda Savitri, Country Marketing and Communications Head Grab Indonesia, menjelaskan bahwa burger digemari karena praktis, familiar, dan terus berinovasi. Melalui kerja sama tersebut, Grab ingin menghadirkan pengalaman kuliner yang menarik sekaligus memudahkan transaksi digital bagi pengunjung dan mitra UMKM.

Dukungan seperti ini dipandang penting agar pelaku usaha lokal tidak hanya tampil di acara festival, tetapi juga mendapat jalan untuk memperluas jangkauan pasar. Dengan begitu, promosi kuliner bisa berjalan seiring dengan penguatan akses digital.

Festival gratis dan target pengunjung

Festival Burger Dunia berlangsung gratis pada 5–7 Juni 2026 di Chillax Sudirman. Selama tiga hari, acara ini menghadirkan 18 jenama kuliner terkemuka yang terdiri dari 17 UMKM dan 1 franchise.

Target kunjungan yang dibidik mencapai 10.000 orang. Kementerian Ekraf menilai ajang seperti ini dapat memperkuat ekosistem kuliner nasional lewat promosi yang lebih inklusif, kolaboratif, dan membuka sirkulasi ekonomi lintas sektor.

Dorongan semacam ini juga diharapkan memperluas jejaring bisnis industri kreatif. Pada akhirnya, burger lokal tidak hanya tampil sebagai produk konsumsi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menaikkan kelas produk Indonesia agar lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas.

Source: www.medcom.id

Berita Terkait