Lebih dari 500 peserta dari jenjang SD hingga kategori umum ambil bagian dalam Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026. Mereka datang dengan kisah-kisah klasik Banten yang dikemas melalui penampilan storytelling, lalu dikurasi dari unggahan Instagram pada periode 1 April hingga 5 Mei 2026.
Antusiasme peserta membuat ajang ini melampaui dugaan panitia sejak tahap awal. Setelah proses kurasi, para semifinalis tampil langsung pada 16 Mei 2026, sebelum finalis terbaik naik ke panggung utama sehari sesudahnya untuk memperebutkan gelar juara.
Di Pendopo Gubernur Banten, kawasan KP3B, Kota Serang, final festival itu memberi ruang bagi cerita rakyat untuk tampil sebagai bagian dari ekspresi generasi muda. Tema “Menghidupkan Legenda Banten, Menginspirasi Masa Depan” menegaskan bahwa budaya tutur masih relevan dan tetap punya tempat di tengah anak muda.
Navaswara mendorong ajang ini sebagai bagian dari gerakan literasi budaya untuk mencari sekaligus membina talenta pendongeng muda di daerah. Melalui festival tersebut, legenda lokal tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat identitas budaya.
Cahaya Manthovani, Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Managing Director Navaswara, menilai penampilan para peserta menunjukkan bahwa cerita rakyat masih memiliki daya hidup yang kuat. Ia menyebut peserta tidak hanya menyiapkan naskah, tetapi juga kostum dan properti dengan sangat detail.
Elemen visual itu ikut membantu peserta membangun suasana cerita di atas panggung. Dengan begitu, storytelling yang mereka sajikan tidak hanya bertumpu pada isi kisah, tetapi juga pada cara mereka menghidupkan narasi secara utuh.
Festival tahun ini dibagi dalam empat kategori yang mengikuti tahapan pertumbuhan pohon Nusantara. Kategori itu meliputi Benih Nusantara untuk SD/MI, Tunas Nusantara untuk SMP/MTS, Kuntum Nusantara untuk SMA/SMK, serta Ranting Nusantara untuk mahasiswa dan umum.
Penilaian dilakukan oleh juri profesional dari kalangan pakar dongeng dan penggerak literasi. Mereka menilai kekuatan narasi, pengucapan, kreativitas panggung, dan kesesuaian cerita dengan kearifan lokal.
Dewan juri terdiri dari Kurniawati Yuli Pratiwi, Yunita Andra Sukmastuti, Putri Dewi, dan Suci Yoskarina dari Ayo Dongeng Indonesia. Penilaian juga melibatkan Ratna Puspa Indah selaku Ketua Read Aloud Serang dan Raudloh Rida sebagai Duta Bahasa Provinsi Banten.
Kehadiran juri lintas komunitas memberi sudut pandang yang lebih luas dalam menilai penampilan peserta. Pendekatan itu membuat kompetisi ini tidak hanya menonjolkan teknik tampil, tetapi juga cara peserta membawa nilai budaya ke dalam cerita.
Pada acara puncak, Gubernur Banten Andra Soni hadir bersama jajaran pejabat daerah. Ia menegaskan bahwa budaya tutur merupakan bagian penting dari jati diri masyarakat Banten.
Andra menyebut festival ini bukan sekadar ruang untuk mendengarkan kisah masa lalu. Menurut dia, kegiatan seperti ini juga menanamkan nilai moral dan etika kepada calon pemimpin masa depan.
Ia turut mengapresiasi keberanian anak-anak muda yang membawakan legenda dari tanah kelahirannya. Baginya, ruang seperti ini penting agar warisan lisan tetap hidup dalam praktik budaya generasi baru, bukan sekadar tersimpan sebagai ingatan.
Penyelenggaraan festival merupakan hasil kerja sama Navaswara Bhuwana Kencana dan Navaswara Media Nusantara (Navaswara.com). Dukungan juga datang dari BNI, PT iForte Solusi Infotek, PLN, Kantor Bahasa Provinsi Banten, PT Astra International Tbk, Kantor Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Banten, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, Frisian Flag Indonesia, dan Mayora.
Sejumlah komunitas literasi ikut terlibat, termasuk Ayo Dongeng Indonesia, Read Aloud, Membacakan Nyaring, Kampung Dongeng, Learning Bee, Jejak Kelana, dan ICMI Korwil Banten. Dukungan media seperti Radar Banten, Banten Pos, Banten TV, Kabar Banten, Banten Raya, RRI Banten, Sultan TV, Media Indonesia, dan Matamata.com juga memperluas jangkauan acara.
Selain memberikan penghargaan kepada para pemenang, rangkaian acara ini juga memberi apresiasi khusus kepada tokoh literasi Banten yang konsisten menggerakkan budaya tutur di masyarakat. Navaswara berharap Suara Nusantara terus menjadi wadah tahunan bagi lahirnya pendongeng berbakat di berbagai daerah, sebelum gerakan ini meluas ke provinsi lain di Indonesia.
