Rasio kecukupan modal industri asuransi umum dan reasuransi masih sangat tebal di level 316,32%. Angka itu memberi bantalan penting saat sektor ini masih berhadapan dengan tekanan ekonomi, volatilitas pasar keuangan, dan risiko klaim yang belum benar-benar reda.
Di saat yang sama, premi juga masih bergerak naik meski tidak melonjak tajam. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia mencatat premi per Maret 2026 tumbuh 1,77% secara tahunan menjadi Rp41,24 triliun, sementara laba setelah pajak industri pada kuartal I/2026 masih berada di Rp4,22 triliun menurut data Otoritas Jasa Keuangan.
Daya tahan laba masih terjaga
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menyebut laba setelah pajak industri asuransi umum dan reasuransi naik sekitar Rp0,08 triliun pada kuartal I/2026. Kenaikan itu ditopang oleh hasil investasi yang membaik dan pertumbuhan premi di sejumlah lini usaha.
OJK menilai prospek industri masih positif karena kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan keuangan terus meningkat. Transformasi industri yang berjalan juga ikut memberi ruang bagi kinerja yang lebih tahan terhadap tekanan pasar.
Lini usaha yang masih menopang
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menilai ada empat lini bisnis yang masih menjadi penopang utama premi industri, yaitu harta benda, kendaraan bermotor, kredit, dan kesehatan. Masing-masing lini membawa karakter risiko dan tekanan klaim yang berbeda, sehingga perusahaan tidak bisa hanya mengejar pertumbuhan volume.
Budi menekankan bahwa laba yang berkelanjutan tidak cukup ditopang oleh kenaikan premi semata. Perusahaan perlu menjaga kualitas underwriting agar ekspansi usaha tidak menggerus kesehatan portofolio.
Langkah yang dianggap penting untuk bertahan
AAUI menyoroti beberapa langkah yang dinilai penting agar industri tetap kuat. Penguatan pricing berbasis risiko, pengelolaan klaim yang lebih efektif, pengendalian expense ratio, diversifikasi portofolio, optimalisasi reasuransi, dan penguatan tata kelola investasi menjadi perhatian utama.
Asosiasi itu juga melihat digitalisasi proses bisnis, penggunaan data analytics, dan efisiensi operasional akan semakin menentukan. Di tengah kondisi pasar yang dinamis, kemampuan perusahaan membaca risiko dan menekan biaya menjadi faktor pembeda yang makin penting.
Risiko dari luar industri masih membayangi
Meski angka-angka kinerja masih menunjukkan ketahanan, AAUI mengingatkan adanya tekanan eksternal yang harus dicermati. Inflasi klaim, kenaikan biaya suku cadang dan layanan kesehatan, risiko bencana alam, tekanan nilai tukar, serta dinamika reasuransi global masih bisa menekan industri.
OJK juga menyoroti tantangan penerapan PSAK 117 dalam penyusunan laporan keuangan. Aturan itu menuntut perubahan besar pada sistem, proses bisnis, metodologi pelaporan, dan aktuaria, sehingga kesiapan teknologi informasi dan sumber daya manusia menjadi penting.
Ogi mengatakan OJK terus mendorong industri memperkuat kesiapan tersebut agar transparansi dan kualitas pelaporan tetap terjaga. Di saat yang sama, perusahaan juga diminta tetap waspada terhadap tekanan klaim, volatilitas pasar keuangan, dan kondisi ekonomi global yang belum stabil.
Pandangan pelaku dan pengamat
PT Asuransi Jasa Indonesia atau Jasindo menilai prospek profitabilitas industri masih cukup positif hingga akhir 2026. Namun, perusahaan juga melihat dinamika ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, dan perkembangan geopolitik tetap perlu dipantau dengan cermat.
Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo Brellian Gema Widayana mengatakan fokus utama perusahaan ada pada kualitas pertumbuhan bisnis, penguatan manajemen risiko, dan optimalisasi peluang dari sektor potensial. Ia menambahkan bahwa lini bisnis korporasi masih menjadi kontributor utama, sementara bisnis ritel terus dikembangkan.
Pengamat asuransi Wahyudin Rahman menilai disiplin underwriting, efisiensi biaya, digitalisasi proses bisnis, dan optimalisasi hasil investasi secara hati-hati menjadi kunci agar laba terus tumbuh. Ia juga melihat kebutuhan proteksi yang meningkat, termasuk dari program pemerintah, masih dapat menopang industri sampai akhir 2026.
Wahyudin mengingatkan bahwa ketidakpastian ekonomi global, geopolitik, volatilitas pasar investasi, dan meningkatnya risiko bencana alam tetap bisa menekan kinerja. Karena itu, pertumbuhan industri perlu bertumpu pada kualitas bisnis agar laba tidak bergantung pada dorongan sementara dari premi atau hasil investasi.
Source: finansial.bisnis.com