Synchronize Fest membuka fase awal lineup dengan menempatkan kolaborasi Reality Club x Phum Viphurit sebagai salah satu sorotan paling kuat. Pertemuan ini langsung menarik perhatian karena menjadi penampilan bersama pertama keduanya di ajang tersebut, sekaligus memberi warna berbeda pada edisi ke-11 festival itu.
Di daftar awal penampil, Hindia juga kembali muncul dan mempertegas posisi Synchronize Fest sebagai panggung yang rutin menghadirkan nama besar yang dekat dengan penonton musik tanah air. Kehadiran dua nama itu membuat fase pertama terasa padat dengan elemen yang kuat, mulai dari kerja sama lintas musisi sampai penampilan individual yang punya basis pendengar luas.
Kolaborasi yang jadi penarik perhatian
Fase pertama pengumuman lineup memang menonjolkan banyak format kolaboratif. Synchronize Fest terlihat ingin menjaga identitasnya sebagai ruang pertemuan lintas genre, bukan sekadar festival yang menampilkan nama-nama populer.
Reality Club x Phum Viphurit menjadi contoh paling jelas dari pendekatan itu. Hubungan keduanya berawal ketika Reality Club menjadi band pembuka konser solo Phum Viphurit di Jakarta pada 2019, lalu berlanjut menjadi saling mengagumi hingga berujung pada panggung bersama di festival ini.
Selain itu, ada Rizky Febian dan Mahalini yang juga masuk daftar penampil fase pertama. Pasangan suami istri tersebut disebut akan membawakan lagu-lagu cinta mereka dalam format panggung yang dirancang tampil megah dan romantis.
Hindia tetap jadi magnet
Nama Hindia kembali menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian di pengumuman awal itu. Musisi ini datang dengan rekam jejak yang kuat, termasuk kemenangan di AMI Awards 2025 lewat lima penghargaan untuk album “Doves, 25 On Blank Canvas”.
Penghargaan lain yang diraihnya mencakup kategori Artis Solo Alternatif Terbaik dan Video Musik Terbaik lewat “everything u are”. Di atas panggung, Hindia dikenal menghadirkan penampilan yang personal dan emosional, sehingga kehadirannya kembali di Synchronize Fest diperkirakan tetap memantik antusiasme besar.
Rekam jejak itu juga ditopang oleh tiga album studionya, yaitu “Menari Dengan Bayangan”, “Lagi Pula Hidup Akan Berakhir”, dan “Doves, 25 on Black Canvas”. Koleksi karya tersebut membuat namanya bertahan sebagai musisi yang akrab di telinga pendengar lintas generasi.
Warna musik yang dibuat seluas mungkin
Seleksi penampil fase awal tidak berhenti pada nama-nama besar di ranah pop dan alternatif. Synchronize Fest juga menyiapkan ruang untuk ragam warna musik lain, mulai dari indie, hip-hop, jazz, punk, sampai proyek panggung yang lebih eksperimental.
Alkateri akan hadir lewat format Expanded Session dengan nuansa romantis khas post-rock dan indie-pop dari album “Kontemplasi”. Sementara itu, Basajan membawa karakter yang lebih eksperimental lewat Priangan psychedelic groove yang terinspirasi budaya Sunda.
Grup asal Kabupaten Bandung tersebut baru merilis album debut “Bewara”. Sebelumnya, mereka sudah tampil di Wonderfruit Festival Thailand serta Cue Showcase Festival di Jepang, sehingga kehadirannya menambah lapisan menarik pada fase awal festival.
Di jalur lain, Habibi Funk menawarkan pendekatan berbeda karena dikenal sebagai label reissue sekaligus DJ set asal Berlin. Ia mengarsip musik Arabic funk, soul, dan jazz dari era 1960-1980, sehingga kehadirannya memberi dimensi historis dalam susunan lineup.
AntiNRML juga masuk sebagai salah satu penampil dengan rombongan besar dari ekosistem hipdut atau hip-hop dangdut yang sedang naik daun. Nama-nama seperti Jemsii, Naykilla, Tenxi, Suisei, Ryo, Josua Natanael, Dia, Anangga, Naufal Syachreza, Riku, Yung Caters, hingga Bboogie ikut memperkuat bagian ini.
Nostalgia, punk, hingga jazz kolaboratif
Gelombang nostalgia juga ikut dihadirkan lewat format spesial Indonesian Girl Group. Program ini menampilkan Chibi Chibi, Ex-Blink yang berisi Agatha Pricilla, Febby Rastanty, Ify Alyssa, dan Sivia, lalu G String, Super Girlies, serta 7icons.
Konsep tersebut membawa kembali atmosfer girl group era 2010-an yang lekat dengan koreografi energik, vokal grup, dan lagu-lagu pop yang mudah dikenali. Beberapa judul seperti “Playboy”, “Diam Diam Suka”, “Love U Kamu”, dan “Aw Aw Aw” disebut akan ikut menghidupkan suasana itu.
Di sisi yang lebih garang, ada panggung punk bertajuk Punk Sejak Dini bersama Sakinah Mawaddah Warahmah, Sukses Lancar Rejeki, dan Sukatani. Format ini menarik karena menghadirkan regenerasi punk dari usia sekolah dasar hingga dewasa dalam satu panggung.
Perunggu juga kembali tampil dengan materi dari “Memorandum” dan “Dalam Dinamika”, sedangkan The Panturas membawa warna surf rock modern yang sudah menguatkan posisi mereka di skena independen. Seringai dijadwalkan tampil dengan formasi live terbaru setelah kepergian gitaris Ricky Siahaan, sementara Sigmun hadir lagi di panggung besar setelah lama jarang tampil.
Bagian jazz dan kolaborasi ditutup dengan kehadiran Indra Lesmana yang akan membawakan set penuh “Little Things From The Heart”. Ia akan tampil bersama sejumlah kolaborator seperti Eva Celia, Teza Sumendra, Monita Tahalea, Michael Jakarimilena, serta LLW yang berisi Barry Likumahuwa, Rafi Muhammad, Kyriz Boogieman, dan Andre Dinuth.
Tiket Synchronize Fest sudah tersedia melalui situs resmi www.synchronizefestival.com dengan harga mulai dari Rp. 550.000 untuk kategori Presale – 3 Day Pass. Dengan komposisi fase pertama yang memadukan kolaborasi lintas musisi, nostalgia, dan penampilan dari berbagai lapisan skena, festival ini kembali menempatkan diri sebagai salah satu agenda musik paling dinanti di Jakarta.
